Langsung ke konten utama

Haruskah Wanita Memberitahukan Penyakitnya Kepada Pengkhitbah

Haruskah Wanita Memberitahukan Penyakitnya Kepada Pengkhitbah
Jalinan Keluarga Dakwah - Meskipun Allah SWT menjamin bahwa manusia adalah makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna di antara makhluk-makhluk lainnya. Namun tidak lantas manusia itu terlahir sempurna tanpa cela, nyatanya masing-masing individu mempunyai kelemahan dan kekurangannya. Kekurangan manusia khususnya yang berkaitan dengan jasadiyah bisa jadi berupa sebuah cacat yang merupakan bawaan lahir ataupun sebuah penyakit yang didapatnya setelah bersentuhan dengan lingkungan.

Namun satu hal yang pasti, baik cacat maupun penyakit tersebut merupakan sebuah ujian dari Allah SWT terhadap hambanya, sejauh mana kesabarannya dalam menghadapi ujian tersebut, dan sejauh mana ujian tersebut tetap membuatnya istiqomah di atas ketaatan terhadap Allah SWT.

Bagi seorang muslimah yang sedang diuji dengan aib ataupun penyakit, terkadang menghadapi dilema ketika datang seorang pria yang hendak meminangnya. Haruskah dia mengabarkan kepada pria tersebut terkait aib dirinya atau tetap menyembunyikannya.

Para ulama fiqh berbeda pendapat mengenai hal ini. Jumhur atau mayoritas mereka berpendapat bahwa aib yang perlu diberitahukan hanyalah aib-aib yang dikhawatirkan nantinya akan menghalangi ataupun mengurangi kesenangan sang pria di ranjang apabila telah menjadi suaminya. Di antaranya adalah gila, kusta, dan penyakit pada farji.

Namun sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa baik yang dikhitbah maupun yang mengkhitbah hendaknya saling berterus terang mengenai aib masing-masing. Khususnya aib yang menghalangi tercapainya kelembutan dan kasih sayang dalam rumah tangga mereka kelak. Dan perbuatan menutup-nutupi aib bisa berujung kepada pembatalan pernikahan atau pernikahan dianggap tidak sah.

Syaikh Shalih Al Munajjid pengasuh situs islamqa.info berpendapat bahwa pendapat kedua yang lebih rajih. Dan beliau memberikan beberapa cataan terkait aib-aib yang dapat menghalangi terciptanya kelembutan dan kasih sayang suami istri, bukan sebatas pada menghalangi kesenangan di ranjang saja, yaitu :



  1. Penyakit atau aib tersebut akan mempengaruhi keharmonisan rumah tangga, dan mempengaruhi performa istri dalam memenuhi hak-hak suami dan anak-anaknya kelak.

  2. Apabila aib atau penyakit tersebut membuat seseorang kurang nyaman ketika memandangnya, dan juga apabila penyakit tersebut ternyata menimbulkan bau yang kurang sedap.

  3. Apabila aib atau penyakit tersebut sifatnya terus menerus, tidak bisa dipastikan kapan kesembuhannya.

Maka dari itu bagi seorang muslimah, hendaknya memeperhatikan aib ataupun penyakitnya. Apabila dirasa bisa mengganggu keharmonisan serta keberlangsungan rumah tangganya kelak, maka beritahukanlah kepada pria yang datang mengkhitbah. Namun apabila dirasa tidak mengganggu keharmonisan, maka boleh baginya tidak memberitahukan, namun apabila memberitahukan itu lebih baik. Karena sikap jujur dan saling terbuka merupakan fondasi kokoh untuk menciptakan rumah tangga yang penuh mawaddah dan rahmah.

Wallahu a’lamu bisshowab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

Sebelum Menyesal Karena Salah Pilih Suami

Urusan jodoh memang urusan Allah, jika sudah ditakdirkan maka kita tak kuasa untuk mengubahnya. Tetapi sebelum kita berjodoh dengan seseorang, kita sama sekali tak tahu siapa jodoh kita. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah ikhtiar dan berusaha mencari jodoh sebaik mungkin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ “Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).” (HR. Muslim no. 2648) Tak sedikit kami mendengar curahan hati para wanita muslimah yang merasa menyesal telah berjodoh dengan suaminya sekarang. Ungkapannya mungkin tidak tegas, tetapi sikapnya mencerminkan hal tersebut. Lelaki yang dulu terlihat sempurna ternyata menyimpan banyak cacat. Lelaki yang dulu diharap menjadi pelindung ternyata menjadi perundung. Sebelum menyesal, teliti terlebih dahulu sebelum menikah. Minta bantuan orang lain untuk menilai dan menyelidiki lelaki yang ingin dinikahi atau lelaki yang pantas dinikahi...

Esensi Tawadhu

Jalinan Keliarga Dakwah - Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan martabat manusia” Hadits tersebut memberi kita dua hal yang mendeskripsikan apa yang disebut sebagai kesombongan. Ketika seseorang memiliki salah satu dari dua hal tersebut, maka dia telah menjadi pribadi yang sombong. Di mana kepribadian tersebut tidak disukai oleh Allah ta'ala. Dalam menerima apa yang diyakini sebagai kebenaran, kita seringkali terfokus pada siapa yang menyampaikan. Sebelum mendengarkan paparannya, kita terlebih dahulu melihat siapa yang berbicara, bagaimana latar belakangnya, apa gelarnya, berapa usianya, dan pertimbangan-pertimbangan subjektif lainnya yang membuat kita “yakin” kepada sang pembicara. Sikap ini tidak sepenuhnya salah, namun seringkali “keyakinan” ini menjerumuskan kita kepada sebuah fanatisme. Di mana kita pada akhirnya berkesimpulan “pokokny...