Langsung ke konten utama

Mana yang Lebih Mulia; Manusia atau Malaikat

Mana yang Lebih Mulia; Manusia atau Malaikat
Keluarga Dakwah - Sebagian ulama berpendapat bahwa malaikat lebih mulia ketimbang manusia. Hal ini dikarenakan kondisi mereka yang dikaruniai akal namun tanpa dibekali syahwat oleh Allah SWT. Kondisi ini membawa mereka menjadi lebih dekat kepada Allah SWT sehingga meninggikan kedudukan serta derajat mereka.

Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa malaikat lebih utama ketimbang manusia. Yaitu mereka yang senantiasa bertasbih kepada Allah SWT siang dan malam tanpa henti.

“Mereka selalu bertasbih siang dan malam tiada henti-hentinya.” (QS Al Anbiyaa : 20)

Para malaikat sebagai penduduk langit juga tidak berhenti bersujud kepada Allah SWT hingga hari kiamat datang. Imam At Thabari dalam tafsirnya meriwayatkan ucapan sahabat Ibnu Mas’ud RA:

“Sesungguhnya dalam seluruh lapisan langit, terdapat langit yang di dalamnya tidak tersisa luas sejengkal kecuali di atasnya menjadi tempat kening malaikat atau tempat kakinya berpijak.”

Rasulullah SAW juga menceritakan salah satu keistimewaan malaikat dalam sebuah hadits ketika beliau sedang dalam peristiwa mi’raj bersama malaikat Jibril AS.

“Lalu diperlihatkan kepadaku Baitul Makmur, lalu aku bertanya kepada Jibril, maka dia berkata, ‘Itu adalah Baitul Makmur, di dalamnya setiap hari ada 70 ribu malaikat melakukan shalat, jika mereka keluar, tidak ada yang kembali yang paling akhir dari mereka.” (HR Bukhari Muslim)

Dan para malaikat juga merupakan makhluk Allah yang senantiasa mentaati segala perintah Allah tanpa penentangan dan pembangkangan. Aktivitas harian mereka hanyalah taat, taat, dan taat kepada Allah SWT.

Yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. Al-Tahrim: 6)

Di samping itu, para malaikat pada beberapa kondisi memintakan ampun kepada Allah SWT untuk manusia. Beberapa kondisi tersebut di antaranya adalah untuk orang-orang yang bertaubat dan istiqamah, lalu orang-orang shalat shubuh dan ashar bejamaah, lalu orang-orang yang duduk di masjid menunggu shalat dalam kondisi suci, lalu orang-orang yang tidur dalam kondisi berwudhu, dan malaikat juga mengaminkan doa seorang muslim kepada saudaranya tanpa sepengetahuannya.

Tentunya pihak yang lebih mulia dan lebih baiklah yang akan memintakan ampunan untuk pihak yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa malaikat lebih mulia dari manusia.

Namun ada ulama yang berpendapat bahwa manusia bisa menjadi lebih mulia dari malaikat. Tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku. Sebagaimana kita tahu, jika malaikat adalah makhluk yang diberi akal tanpa dibekali syahwat. Maka binatang adalah sebaliknya, dia dibekali syahwat tanpa diberi akal. Namun manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah dalam bentuk paling sempurna, diberi keduanya; akal dan juga syahwat.

Ketika manusia menuruti hawa nafsunya, melanggar semua larangan, serta enggan mengerjakan perintah maka perilakunya akan serupa dengan binatang bahkan lebih hina dibandingkan binatang.

“Mereka itu (orang-orang yang membangkang) tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS Al Furqan :44)

Namun ketika manusia mampu mengekang syahwatnya, mentaati perintah Allah SWT, serta menjauhi larangannya maka hal itu bisa membawanya kepada kedudukan lebih mulia dari malaikat. Sahabat Abdullah bin Salam RA mengungkapkan bahwa Jibril dan Mikail merupakan makhluk yang telah ditundukkan seperti langit dan bulan, hal ini menjadikan tidak ada makhluk yang lebih mulia dari Muhammad SAW.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa berpendapat bahwa perintah Allah kepada para malaikat agar bersujud kepada Adam merupakan indikator bahwa manusia bisa menjadi lebih mulia dari malaikat.

Adapun Imam Ibnul Qayyim dalam Thariqul Hijaratain menyatakan bahwa manusia yang saleh lebih utama dibanding malaikat, karena ibadah malaikat terbebas dari tuntutan hawa nafsu dan syahwat manusiawi. Dia bersumber dari tidak adanya pertentangan dan perlawanan. Dia bagaikan jiwa bagi orang yang hidup. Adapun ibadah manusia, dia bersumber dari tarik menarik dalam diri manusia, serta setelah menundukkan hawa nafsu dan tuntutan-tuntutan manusiawi lainnya.

Begitulah manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, ketaatan dan kepatuhan akan membuatnya menjadi lebih mulia dari malaikat. Adapun pembangkangan serta penentangan akan menjadikannya lebih hina dari binatang.

Wallahu a’lamu bishhowab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

Sebelum Menyesal Karena Salah Pilih Suami

Urusan jodoh memang urusan Allah, jika sudah ditakdirkan maka kita tak kuasa untuk mengubahnya. Tetapi sebelum kita berjodoh dengan seseorang, kita sama sekali tak tahu siapa jodoh kita. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah ikhtiar dan berusaha mencari jodoh sebaik mungkin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ “Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).” (HR. Muslim no. 2648) Tak sedikit kami mendengar curahan hati para wanita muslimah yang merasa menyesal telah berjodoh dengan suaminya sekarang. Ungkapannya mungkin tidak tegas, tetapi sikapnya mencerminkan hal tersebut. Lelaki yang dulu terlihat sempurna ternyata menyimpan banyak cacat. Lelaki yang dulu diharap menjadi pelindung ternyata menjadi perundung. Sebelum menyesal, teliti terlebih dahulu sebelum menikah. Minta bantuan orang lain untuk menilai dan menyelidiki lelaki yang ingin dinikahi atau lelaki yang pantas dinikahi...

Esensi Tawadhu

Jalinan Keliarga Dakwah - Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan martabat manusia” Hadits tersebut memberi kita dua hal yang mendeskripsikan apa yang disebut sebagai kesombongan. Ketika seseorang memiliki salah satu dari dua hal tersebut, maka dia telah menjadi pribadi yang sombong. Di mana kepribadian tersebut tidak disukai oleh Allah ta'ala. Dalam menerima apa yang diyakini sebagai kebenaran, kita seringkali terfokus pada siapa yang menyampaikan. Sebelum mendengarkan paparannya, kita terlebih dahulu melihat siapa yang berbicara, bagaimana latar belakangnya, apa gelarnya, berapa usianya, dan pertimbangan-pertimbangan subjektif lainnya yang membuat kita “yakin” kepada sang pembicara. Sikap ini tidak sepenuhnya salah, namun seringkali “keyakinan” ini menjerumuskan kita kepada sebuah fanatisme. Di mana kita pada akhirnya berkesimpulan “pokokny...