0
Cahaya Islam di Lembah Sembalun
Keluarga Dakwah - Sembalun, sebuah kecamatan di Lombok Timur, dengan jumlah 6 desa. Sembalun Bumbung, Sembalun Lawang, Sajang, Bilok Petung, Timba Gading dan Sembalun saja. Desa ini tepat berada di bawah kaki Gunung Rinjani. Lahan pertanian yang begitu subur membuat desa ini begitu sejuk dan indah. Sehingga sering di jumpai para wisatawaan baik local maupun mancanegara yang ingin mendaki atau sekedar berwisata menikmati keindahan alam yang ada.  

Berada di pulau Lombok dengan julukan negeri seribu satu masjid, Desa sembalun merupakan salah satu desa yang sangat menjunjung tinggi nilai nilai keislaman. Tidak jarang kita temui masyarakat sembalun yang notabenenya berada di kaki gunung, menyekolahkan anak mereka di pesantren, jauh di kota Mataram. Demi pendidikan agama yang baik mereka rela menembus dinginnya hawa pegunungan menuju kota dengan jarak tempuh sekitar enam jam pulang pergi. 

Bahkan para wanita sembalun, merasa sangat malu jika tidak mengenakan hijab besar dalam kesehariannya. Ditambah lagi semangat mereka dalam belajar ilmu agama, baik muda, tua maupun anak anak. Terlebih setelah terjadi gempa yang mengguncang sebagian besar Lombok, termasuk di kecamatan ini 8 bulan silam, membuat mereka semakin giat untuk balajar ilmu agama. Akan tetapi karena ketersediaan dai yang masih minim, mereka terkadang harus memendam keinginan tersebut.  

Alhamdulillah, Majelis Dakwah Islam Indonesia dengan program tahunannya Semarak Dakwah Ramadhan Nusantara (Sahdan) sejak awal ramadhan berksempatan mengirimkan salah satu da’inya di kecamatan ini. Tepatnya di desa Sembalun Bumbung.  

Di desa ini kami bertugas di salah satu masjid darurat yang didirikan sebagai pusat ibadah setelah gempa terjadi beberapa bulan silam. Karena trauma yang masih membekas, banyak diantara masyrakat yang enggan untuk kembali ke rumah mereka yang tembok, dan memilih untuk tinggal di rumah pelangi – karena beratapkan seng berwarna pelangi- dan rumah bamboo yang dibangun oleh para relawan.  

Katerbatasan sarana ibadah itu ternyata tidak membuat mereka surut dalam menjalankan kewajiban. Setiap paginya setelah shalat shubuh, sekelompok Ibu – ibu dengan semangat menggelora bak anak muda meluangakan waktunya untuk belajar mengaji Al Quran dan iqra’. 

Dinginnya hawa pegunungan kalah dengan kobaran semangat yang tertancap di dada mereka. Bahkan selesai belajar Al Quran, mereka sering bertanya perihal agama mulai masalah ibadah sampai masalah muamalah dalam pertanian. Tentu kebaikan ini menular kepada anak anak mereka. Setiap hari senin sampai jumat setelah ashar diadakan TPA dimana anak-anak berkumpul di masjid “sementara” – begitu katika kami Tanya apa nama masjid ini- guna mengaji Al Quran dan belajar agama. Sungguh permata yang menyejukkan hati.  

Dengan segala keterbatasan yang ada, mereka mencoba bangkit dari ujian yang diberikan Allah Azza wa Jalla. Bangkit dengan hal yang positif. Mereka mernyadari bahwa ujian dari gempa kemarin salah satunya disebabkan karena kurangnya kedekatan mereka dengan Sang Pencipta. Maka Alhamdulillah, Madina pada tahun ini hadir di tengah-tengah kehausan masyarakat akan ilmu agama. Pasca gempa yang terjadi di masyarakat sangat membutuhkan bimbingan dan arahan dari para da’i yang ada. 

Semoga di kemudian hari Madina mampu semakin banyak untuk mengirimkan dainya menuju pelosok negri. Karena mereka adalah kita. Satu Rabbnya, dan satuarah kiblat. Mereka adalah saudara muslim kita di dunia dan di akhirat. Bersama cita dan cinta kita raih ridhonya dengan jalan dakwah.

Ustadz Muhammad Tesar
(Dai Sahdan Madina yang ditugaskan berdakwah di Lombok Timur)

Posting Komentar

 
Top