0
Hukum Memotret / Merekam Hubungan Intim Suami Istri
Keluarga Dakwah - Hukum Memotret / Merekam Hubungan Intim Suami Istri

Lajnah Daimah pernah ditanya, “Apa hukum memotret hubungan intim suami istri berupa jima’ dan foreplay-nya? dan diketahui adanya fatwa dari sebagian orang -yang menisbatkan dirinya dengan ilmu- di sebagian negara yang membolehkannya dengan syarat menjaga/menyimpannya pada kaset/file sehingga tidak ‘bocor’ ke orang lain”.

Mereka menjawab:

ج: تصوير ما يحصل من الزوجين عند المعاشرة الزوجية محرم شديد التحريم؛ لعموم أدلة تحريم التصوير، ولما يفضي إليه تصوير المعاشرة الزوجية خصوصا من المفاسد والشرور التي لا تخفى، مما لا يقره شرع ولا عقل ولا خلق، فالواجب الابتعاد عن ذلك، والحرص على صيانة العرض والعورات، فإن ذلك من الإيمان واستقامة الفطرة، ومما يحبه الله سبحانه. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسل

“Memotret hubungan intim suami istri adalah perkara yang sangat diharamkan, berdasarkan keumuman dalil haramnya tashwir (membuat gambar) *). Dan juga karena memotret hubungan intim suami-istri bisa mengantarkan kepada kerusakan dan keburukan yang nyata dan tidak diakui kebolehannya oleh syariat, akal dan makhluk. Maka wajib menjauhi hal ini dan bersemangat dalam menjaga kehormatan serta aurat karena hal tersebut merupakan bagian dari keimanan dan kelurusan fitrah, dan termasuk hal yang dicintai oleh Allah Subhanahu.

Wabillahi taufiq, wasallallhu ala nabiyya muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam. (Fatwa lajnah Daimah no. 22659, Asy-Syamilah)

*) Dalam hal ini diperselisihkan para ulama, sebagian ulama berpendapat memfoto termasuk tashwir, sebagian ulama berpendapat memfoto bukanlah tashwir yang diharamkan.

Posting Komentar

 
Top