0
Menasehati istri dengan sebaik-baik nasehat.
Keluarga Dakwah - Allah memerintahkan kita untuk mengedepankan nasehat dalam mengatasi istri yang nusyuz, karena nasehat mempunyai pengaruh yang besar dalam memperbaiki perilaku seseorang, terutama wanita. Wantia cenderung mempunyai perasaan yang lembut, yang apabila suami selalu mengingatkannya dengan surga dan ancaman pedihnya adzab Allah, niscaya seorang istri akan mudah tersentuh dengannya. Oleh karenanya, sang suami harus selalu menasehati istri dengan sebaik-baik nasehat.

Nasehat bukan hanya milik seorang suami, tapi seorang istri juga berhak menasehati suaminya jika dia mendapati kesalahan pada diri suami yang sudah menyelisihi aturan Allah. Tapi yang perlu diingat, dalam menasehati harus pandai-pandai memilih kata yang lembut yang tidak menyakiti hati pasangan kita, sehingga nasihat akan mudah diterima dengan baik.

Dalam menasehati istri, suami harus memilah dan memilih kata-kata apa yang pantas diucapkan, sehingga tidak menimbulkan permasalahan yang lebih rumit. Dengan perkataan yang baik justru akan mendatangkan ridha Allah yang akan memberikan manfaat dalam penyelesaian suatu masalah.

Dalam hal emosi pun, manusia mempunyai emosi yang berbeda-beda satu dari yang lainnya. Ada orang yang cepat marah tapi juga cepat reda marahnya, ada juga yang sulit marah tapi jika sudah marah sulit juga redanya. Oleh karena itu, dalam menyelesaikan permasalahan rumah tangga, keduanya harus saling memahami emosi masing-masing pasangannya. Mereka harus berperilaku yang tidak membuat marah pasangannya, serta menghindari waktu-waktu dan hal-hal yang bisa membuat masing-masing pasangan menjadi marah.

Allah Ta’ala berfirman, “Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf” (Al-A’raf: 199)

Ayat di atas diturunkan berkenaan dengan akhlak manusia, yang juga harus diterapkan dalam kehidupan rumah tangga. Jika seorang suami mendapati istrinya yang cepat marah, hendaknya dia menasehatinya dengan lemah lembut dan menghindari hal-hal yang bisa membuat sang istri marah. Begitu juga istri, jika dia mendapati suaminya mudah marah, maka hendaknya dia tetap sabar dan menghindari hal-hal yang bisa membuat sang suami marah.

Kemarahan dalam rumah tangga harus sebisa mungkin dihindari, karena dalam kondisi marah seseorang bisa berubah tanpa disadarinya. Orang marah bisa menjadi sangat liar dan tidak terkendali layaknya orang yang kehilangan akal. Makanya, Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda, لا طلاق في إغلاق yang maknanya kurang lebih “tidak ada thalaq dalam kondisi marah”. Nabi juga menganjurkan kepada pasangan suami istri hendaknya membiasakan untuk musyawarah dan saling menasehati, agar syetan tidak mudah menyulut api kemarahan di antara keduanya, dan hendaknya mereka saling memahami bahwa mereka hanyalah manusia tempatnya salah dan lupa.

Seorang hakim pun juga tidak boleh menghukumi sesuatu ketika dalam kondisi marah, sebagaimana sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam,

لا يقضينَّ حكمٌ بين اثْنينِ وهو غضبان

“Tidak boleh seorang hakim memberi keputusan terhadap dua orang ( yang dibicarakan) sedang dia dalam keadaan marah ( terhadap salah seorang atau sebab lain)”. (HR. Bukhari)

Sebagai seorang manusia, marah merupakan hal yang wajar selama masih dalam batas-batasnya dan tidak berlebih-lebihan. Dalam sebuah hadits mauquf dari Aisyah radhiallahu anha menunjukkan bahwa beliau juga pernah marah dan Rasulullah tidak mengingkarinya.

Hadis Aisyah r.a katanya:

Ketika datang berita kepada Rasulullah s.a.w mengenai gugurnya Ibnu Harithah, Jaafar bin Abu Talib dan Abdullah bin Rawahah r.a Rasulullah s.a.w duduk dan kelihatan bersedih hati. Aisyah melihat dari celah pintu. Lalu datanglah seseorang menceritakan perihal isteri Jaafar dan memberitahu mengenai ratapan mereka. Lalu Rasulullah s.a.w menyuruh orang tersebut pergi melarang mereka. Kemudian orang itu pergi dan kembali semula serta memberitahu bahawa: Mereka tidak menghiraukan aku! Rasulullah s.a.w menyuruhnya untuk kali kedua supaya pergi melarang isteri Jaafar tersebut. Kemudiannya orang itu pergi dan kembali sekali lagi serta memberitahu: Demi Allah! Kami tidak berjaya memujuk mereka, wahai Rasulullah! Aisyah berkata: Kalau tidak salah aku, Rasulullah s.a.w bersabda: Pergilah dan sumbatlah tanah ke mulut mereka supaya mereka berhenti dari meratap! Aisyah berkata: Semoga Allah menutup mulut kamu dengan tanah. Demi Allah! Engkau tidak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w dan engkau tidak ingin meninggalkan Rasulullah s.a.w bebas dari kesusahan. (HR. Muslim)

Kita juga pernah mendengar bahwa Nabi Musa alaihissalam juga pernah marah, beliau pernah membunuh seorang qibthi, beliau juga pernah menyobek lembaran-lembaran, akan tetapi beliau juga mempunyai lautan kebaikan yang begitu banyaknya, sehingga Allah mengampuni beliau.

Sudah selayaknya dalam kehidupan kita ada kebiasaan saling menasehati, terutama dalam kehidupan rumah tangga antara suami dan istri. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ibnu Umar pernah ingin menceraikan salah satu istrinya, tapi istri lainnya berkata kepadanya, “Apakah engkau ingin menyengsarakan seorang wanita yang rajin puasa dan bertanggung jawab?” Mendengar itu Ibnu Umar mengurungkan niatnya dan tidak jadi menceraikannya. Lihatlah sosok Ibnu Umar yang dengan lapang menerima nasehat dari istrinya, karena tidak mau menerima nasehat termasuk sebuah kesombongan. Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”

Oleh karena itu, memohonlah kepada Allah dan minta kepada-Nya untuk memperbaiki perilaku pasangan anda. Sebagaimana Allah Ta’ala telah memperbaiki keadaan rumah tangga Nabi Zakaria dan istrinya. Dalam Al-Qur’an disebutkan kisah tentang istri Nabi Zakaria, yaitu firman-Nya,

“Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas . Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (Al-Anbiya’: 90)

Istri Nabi Zakaria sebelumnya adalah wanita yang mandul, akan tetapi karena kesungguhan beliau dalam berdoa dan memohon kepada Allah, Allah pun menjawab doa beliau, sehingga lahirlah dari rahim beliau seorang Nabi mulia bernama Yahya alaihimussalam.

Perlu diketahui juga, bahwa perilaku pasangan kita terkadang berhubungan dengan perilaku kita juga. Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Demi Allah, sungguh aku bisa mengetahui dosaku dari perilaku istriku kepadaku dan perilaku hewan tungganganku.” Maka, terkadang sikap pasangan kita kurang baik kepada kita, karena kita berbuat maksiat atau keburukan lainnya. Hal ini senada dengan firman Allah Ta’ala yang artinya,

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (As-Syuraa: 30)

Perlu diketahui bahwa yang berkuasa mendatangkan kebaikan dan keburukan kepada kita hanyalah Allah Ta’ala, maka Allah pula lah yang mampu menyalakan sekaligus memadamkan segala permasalahan, terutama dalam keluarga. Akan tetapi perlu diingat juga, bahwa masalah yang timbul dalam kehidupan kita juga tidak lepas dari sebab perbuatan diri kita sendiri, maka hendaknya kita senantiasa memperbanyak istighfar kepada Allah Ta’ala

Artikel ini diterjemahkan dari catatan Abu Hamam As-Sa’di di saaid.net

Posting Komentar

 
Top