0
Keluarga Dakwah - Apa itu Penyakit ‘Ain?

Secara harfiah, penyakit ‘Ain itu diambil dari kata ‘Ana-Ya’inu (bahasa Arab) artinya: apabila ia menatapnya dengan matanya. Penyakit ‘ain adalah penyakit yang menimpa pada badan maupun jiwa yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki ataupun takjub yang dimanfaatkan oleh setan untuk menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena.

Penyakit ‘Ain bukanlah penyakit medis, tetapi dapat mengganggu kesehatan orang yang terkena. Dan yang paling rentan terkena penyakit ‘ain adalah anak-anak dan balita, karena mereka masih lemah dan belum bisa membentengi diri sendiri dari pengaruh jahat yang ada di sekitarnya. Namun tidak menutup kemungkinan, akan menimpa orang dewasa, ibu hamil, hewan, bahkan harta benda. (Lihat Fath al-Bari, 10/200).

Bagaimana Cara Mengetahui Seorang Anak Terkena ‘Ain?

Anak-anak dan bayi terkadang menggemaskan dan lucu sehingga banyak yang kagum dan terkadang membuat orang yang memandangnya iri dengannya, sehingga hal itu bisa menyebabkan anak atau bayi tersebut terkena ‘ain. Adapun di antara gejalanya bisa berupa anak menangis terus menerus tanpa henti, kejang-kejang tanpa sebab, tidak mau menyusui tanpa sebab yang jelas. Sebagaimana hadits dari ‘Aisyah i beliau berkata, “Suatu ketika Nabi masuk (rumah), kemudian mendengar bayi sedang menangis. Beliau berkata, ”Mengapa bayi kalian menangis?, Mengapa tidak kalian bacakan ruqyah-ruqyah untuknya (supaya sembuh) dari penyakit ‘ain?.” (HR. Ahmad, no. 24442).

Dan bisa juga anak atau bayi menjadi sangat kurus kering padahal asupan makannya normal, sebagaimana hadits, “Dari Jabir bahwa Rasulullah memberi keringanan bagi anak-anak keluarga Hazm untuk diruqyah karena gigitan ular. Beliau berkata kepada Asma’ binti Umais, ‘Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan?’ Asma’ menjawab, ‘Tidak, akan tetapi mereka tertimpa ‘Ain.’ Kata beliau, ‘Kalau begitu ruqyahlah mereka!’” (HR. Muslim, no. 2198).

Cara Mencegah Dan Mengobati ‘Ain Pada Anak

Pertama: Mencegah ‘ain sebelum terjadi.

1. Membacakan doa perlindungan agar terhindar dari ‘ain. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap kedua cucunya Hasan dan Husein:

أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

“Aku memintakan perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat–kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan setan, binatang yang berbisa dan pandangan mata yang jahat.” (HR. Ahmad, no. 2112).

Kalau satu anak laki-laki kata gantinya diganti dengan U’iidzuka… dan kalau satu anak perempuan dengan U’iidzuki….

2. Jangan sering menceritakan atau membangga-banggakan kebaikan anak kepada orang lain, sehingga mengundang rasa iri orang yang mendengarnya. Menutupi bagian yang menarik dari anak, yang dikhawatirkan menjadi sumber ‘ain, dengan membuatnya sedikit kurang menarik. Imam Ibnu Qoyyim meriwayatkan dari Imam al-Baghawi dalam kitab Syarhus Sunnah:

أَنّ عُثْمَانَ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ رَأَى صَبِيّا مَلِيحًا فَقَالَ دَسّمُوا نُونَتَهُ لِئَلّا تُصِيبَهُ الْعَيْنُ

“Bahwasanya Utsman pernah melihat anak kecil yang sangat lucu. Lalu beliau berpesan, ‘Beri olesan hitam di lesung pipinya, agar dia tidak terkena ‘ain.’” (Zaadul Ma’ad, 4/159).

3. Jika takjub dengan kemolekan fisik anak maka do’akanlah keberkahan. Sebagaimana yang diceritakan oleh Sahl bin Hunaif, “Bahwa Amir bin Rabi’ah melihat Sahl yang sedang mandi. Karena heran, Amir berkomentar, ‘Aku tidak pernah melihat pemandangan seperti hari ini, dan tidak pernah kulihat kulit yang sebagus ini.’ Seketika itu, Sahl bin Hunaif langsung jatuh terpelanting. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi Amir dengan marah beliau berkata:

عَلَامَ يَقْتُلُ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ هَلَّا إِذَا رَأَيْتَ مَا يُعْجِبُكَ بَرَّكْتَ؟

“Atas dasar apa kalian mau membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak do’akan keberkahan (untuk yang kamu lihat)?” (HR. Ahmad, 15980).

Kedua: Mengobati ‘ain setelah terjadi.

Jika anak sudah terkena ‘ain maka bisa ditempuh cara berikut:

1. Jika orang yang menimpakan ‘ain diketahui

Jika orang yang menimpakan ‘ain diketahui maka orang tadi diminta untuk mandi kemudian air bekas mandinya, digunakan untuk mandi, disiramkan atau dibasuhkan kepada orang yang terkena ‘ain. Sebagaimana dalam kisah Sahl bin Hunaif yang terkena ‘ain maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada pelakunya, “Mandilah untuk menyembuhkan Sahl!”, Kemudian Amir mandi dengan menggunakan satu wadah air, dia mencuci wajah, kedua tangan, kedua siku, kedua lutut, ujung-ujung kakinya, dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas mandinya itu dituangkan kepada Sahl, lantas dia sadar, dan kemudian bergabung kembali bersama para sahabat, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.” (HR. Ahmad, 15980).

Jika pelakunya tidak memungkinkan mandi, maka diperintahkan untuk berwudhu, sebagaimana hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata:

كَانَ يُؤْمَرُ الْعَائِنُ فَيَتَوَضَّأُ ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ الْمَعِينُ

“Orang yang melakukan ‘ain diperintahkan berwudhu kemudian orang yang terkena ‘ain mandi dari air (bekas wudhu tadi).”(HR. Abu Dawud, no. 3880).

2. Jika orang yang menimpakan ‘ain tidak diketahui

Jika orang yang menimpakan ‘ain tidak diketahui, maka anak yang terkena ‘ain diobati dengan ruqyah atau dzikir-dzikir.

a. Dibacakan doa dibawah ini sambil meletakkan telapak tangan di atas kepala anak yang terkena ‘ain.

بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ أَوْ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ

“Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu, dari kejahatan setiap jiwa atau pengaruh ‘ain, dari setiap orang yang iri dengki, Semoga Allah menyembuhkanmu, dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu.”(HR. Ibnu Majah, no. 3523).

b. Meletakkan tangan di atas bagian yang sakit dan meruqyah dengan surat al-Ikhlash, al-Falaq, dan an-Naas, ayat Kursi, dua ayat terakhir surat al-Baqarah, dan dengan do’a ruqyah yang syar’i lainnya.

c. Membacakan dengan bacaan-bacaan ruqyah yang syar’i di air (air zam-zam, air hujan atau lainnya) dengan disertai tiupan, lalu meminumkannya kepada penderita, dan sisanya disiramkan ke tubuhnya. Hal itu pernah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Tsabit bin Qais. (HR. Abu Dawud, no. 3885).

d. Membacakan dengan bacaan-bacaan ruqyah yang syar’i pada minyak zaitun, lalu minyak tadi dibalurkan ke sekujur tubuh penderita ‘ain atau diminumkan. Karena minyak zaitun hasil dari pohon yang diberkahi. (HR. Tirmidzi, no. 1851). Wallahu A’lam. (asohfa / Keluarga Dakwah)

Posting Komentar

 
Top