Langsung ke konten utama

Sya'ban, Bulan Diangkatnya Amal

Sya'ban, Bulan Diangkatnya Amal
Keluarga Dakwah - Sya'ban, Bulan Diangkatnya Amal - Saat malam tiba, bulan sabit telah menghias langit. Begitu indahnya. Seakan ia mengumumkan kepada dunia: Ramadhan akan segera tiba. Dan diangkatlah amal-amalmu kepada-Nya.

Dalam akuntansi, kita mengenal istilah tutup tahun buku. Itulah ketika pembukuan tahunan dilaporkan, jurnal diangkat. Pemerintah -selama ini- terkesan banyak program di akhir tahun; menyerap sebanyak-banyaknya anggaran yang tersedia. Perusahaan biasa menggenjot omset, memperbesar laba. Agar tutup tahun buku menjadi akhir yang manis bagi perjalanan. Lalu bagaimana dengan kita?

Rasulullah memberikan contoh. Sang junjungan memberikan teladan.

أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Usamah berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di satu bulan melebihi puasamu di bulan Sya'ban." Rasulullah menjawab, "Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. Karena itu aku ingin saat amalku diangkat kepada Allah, aku sedang berpuasa." (HR. An-Nasa'i. Al Albani berkata "hasan")

Itulah Rasulullah. Dan semestinya, logika seperti itu juga dipakai oleh para pemburu akhirat. Maka ia akan lebih bersemangat menghabiskan waktunya di bulan Sya'ban dengan kebaikan melebihi semangat pemerintah menghabiskan anggaran. Ia lebih bersemangat mengejar keridhaan Allah dan pahala-Nya melebihi semangat perusahaan mengejar omset dan keuntungan.

Senada dengan hadits di atas, Imam Bukhari dan Muslim merekam kebiasaan Rasulullah menunaikan puasa Sya'ban sebagaimana dituturkan oleh Bunda Aisyah:

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunnah di satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya'ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada bulan Sya'ban. (HR. Bukhari)

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

Beliau berpuasa di seluruh Sya'ban, kecuali sedikit darinya (hanya beberapa hari tidak berpuasa). (HR. Muslim)

Syaikh Muhyidin Mistu, Mushthafa Al-Bugha, dan ulama lainnya mengomentari hadits di atas dalam Nuzhatul Muttaqin, "Berpuasa sunnah pada bulan Sya'ban memiliki keistimewaan tersendiri. Sekaligus untuk persiapan menghadapi puasa Ramadhan."

Sementara ada logika terbalik yang berkembang di masyarakat. "Mumpung belum Ramadhan," kata sebagian orang, "kita puas-puaskan bermaksiat." Na'udzubillah. Betapa jeleknya catatan amal orang yang seperti ini. Amalnya diangkat kepada Allah, sementara ia tengah berasyik masyuk dalam maksiat dan kedurhakaan kepada-Nya. Lebih mengenaskan lagi, jika kemudian ia mati tiba-tiba. Bukankah di zaman sekarang semakin banyak saja orang yang mati tiba-tiba? Koran nasional pagi ini juga memberitakan, seorang tokoh organisasi tertentu yang tengah berpidato, kelihatan sehat dan bugar, tiba-tiba saja ambruk dan meninggal seketika. Siapa yang menjamin kita selamat dari kematian yang tiba-tiba?

Bukankah seharusnya kita suka, ketika amal kita diangkat kepada Allah, kita tengah beribadah kepada-Nya, berpuasa sya'ban, serta berbuat kebajikan. Dan kita pun bermohon kepada Allah, dalam keadaan beribadah dan mengerjakan kebaikan lah kita menghadap-Nya. Husnul khatimah. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)