Langsung ke konten utama

Jangan Terburu-buru Dalam Berdoa

Jangan Terburu-buru Dalam Berdoa
Keluarga Dakwah - Suatu hari, Imam Hanafi didatangi seseorang. Ia berkata : Wahai imam, aku lupa dimana menyimpan batangan emasku. Berikan solusi kepadaku agar aku teringat kembali sehingga mendapatkan emas itu. Mendengar penuturannya, imam Hanafi berkata : Aku tidak memiliki solusi bagimu, kecuali tunaikan sholat malam, lalu bermunajatlah kepada Robmu.

Orang ini segera pulang untuk melakukan apa yang dinasehatkan sang imam. Di pertengahan malam, lelaki itu bangun. Ia segera berdiri untuk sholat tahajud. Belum sampai rokaat kedua, ia sudah teringat dengan tempat dimana ia menyimpan batangan emasnya. Ketika rokaat kedua sudah diselesaikan, ia segera pergi menuju tempat tidurnya dan benar, ia mendapatkan kembali hartanya di bawah ranjangnya.

Selesai sholat shubuh, lelaki ini menghadap imam Hanafi untuk menyampaikan ucapan terima kasih. Imam Hanafi lantas bertanya selesai mendapat ucapan terima kasih “ Apakah engkau selesaikan sholat tahajud hingga sebelas rokaat setelah dirimu mendapatkan kembali harta yang engkau cintai itu ? “ Orang ini menjawab “ Tidak “

Demikianlah, manusia bila keinginannya terkabul, akibatnya Alloh segera dilupakan. Bisa dibayangkan bila saat ia berwudlu langsung teringat dengan tempat penyimpanan emasnya, boleh jadi orang ini tidak akan menunaikan sholat tahajud.

Oleh karena itu, terkadang Alloh tidak segera mengabulkan doa-doa hambaNya dengan satu hikmah, yaitu agar hambaNya selalu menyebut-nyebut namaNya. Alloh tunda pengabulan doa supaya manusia senantiasa bertaqorrub kepadanya. Dari sini kita mengerti, bahwa sikap tergesa-gesa ingin segera dikabulkan apa yang kita pinta adalah satu kesalahan. Dalam sebuah hadits, rosululloh shollallohu alaihi wasallam mengingatkan :

وعن أَبي هريرة رضي الله عنه أنَّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لا يَزالُ يُسْتَجَابُ لِلعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بإثْمٍ ، أَوْ قَطيعَةِ رحِمٍ ، مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قيل : يَا رسولَ اللهِ مَا الاستعجال ؟ قَالَ يقول : قَدْ دَعوْتُ ، وَقَدْ دَعَوْتُ ، فَلَمْ أرَ يسْتَجِبُ لي ، فَيَسْتحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

Dari Abu Huroiroh rodliyallohu anhu : Bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Senantiasa seorang hamba dikabulkan doanya selama tidak berdoa untuk perbuatan dosa atau pemutusan tali silaturrohim, selama tidak tergesa-gesa. Ada yang bertanya : Wahai rosululloh, apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa ? Beliau menjawab : Kalau dia berkata “ Aku sudah berdoa, akan tetapi aku tidak melihat Alloh mengabulkan untukku lalu ia berputus asa dan meninggalkan doa [HR Muslim]

Imam Nawawi berkata : Hadits ini memberi pelajaran bahwa sudah seharusnya seseorang untuk kontinyu dalam berdoa dan jangan menilai pengkabulan doa datang terlambat

Maroji’ :

Syarh Shohih Muslim, Imam Nawawi 9/46

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)