Langsung ke konten utama

Manusia Yang Paling Mulia

Manusia Yang Paling Mulia
Manusia seringkali menganggap bahwa kemuliaan itu terletak pada harta, maka dia akan menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengumpulkan harta. Manusia juga seringkali menganggap bahwa kemuliaan itu terletak pada jabatan, maka dia akan menghabiskan waktu hidupnya untuk mengejar jabatan setingi-tingginya. Dan manusia juga seringkali menganggap bahwa kemuliaan itu terletak pada nasab, maka dia pun akan berusaha memepertahankan kemurnian keturunannya.

Namun pada akhirnya, ketika menjelang kematiannya mereka menyadari bahwa banyaknya harta, tingginya jabatan, serta terhormatnya sebuah nasab tidak lantas mampu menghindarkannya dari kematian dan juga tidak lantas mempermudah urusannya pada fase kehidupan setelah kematian. Karena pada akhirnya, nasab, harta, serta jabatan tak bisa dibawa mati.

Lalu jika kemuliaan tidak terletak pada nasab, harta, dan jabatan. Dimanakah letak kemuliaan yang hakiki itu ?

Allah Subhanallaahu wa ta'ala berfirman dalam surat Al Hujurat ayat yang ke 13:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.”

Jadi hanya ketakwaanlah yang mampu membawa seseorang pada kemuliaan yang hakiki, baik di kehidupan dunianya yang fana ataupun di kehidupan kekalnya di akhirat kelak.

Allah Subhanallaahu wa ta'ala juga berfirman  :

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah SWT akan memperbaiki perbuatan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul Nya maka sungguh dia akan memperoleh kemenangan yang nyata.” (Al Ahzab : 70-71)

Ciri-ciri manusia bertakwa

Kita semua tahu, bahwa seseorang akan dipanggil pak haji setelah menunaikan ibadah haji, seseorang juga digelari al-hafidh setelah menghafal sekian juz dari Al Qur’an.

Tentang takwa pun seperti itu, terdapat langkah ataupun tahapan tertentu yang harus dilalui seseorang agar disebut bertakwa.

Allah Subhanallaahu wa ta'ala berfirman:

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”(QS 2:2)

Jadi, seseorang bisa dikatakan bertakwa ketika dia telah bisa memperlakukan Al Qur’an sebagai pedoman atau petunjuk dalam kehidupannya, dan dia tidak menyimpan secuil pun keraguan di dalam hatinya mengenai kebenaran Al Qur’an.

Seseorang bisa dikatakan bertakwa ketika segala aspek dalam hidupnya, mulai sejak terbangun dari tempat tidurnya hingga tertidur kembali diatur berdasarkan aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah SWT di dalam Al Quran, bukan aturan-aturan buatan manusia.

Dan disamping itu dia pun harus meyakini sepenuh hati akan kebenaran aturan-aturan tersebut. Ketika melihat minuman keras misalnya, ada seseorang yang mengakui keharamannya, mengetahui ayatnya, namun masih tetap meminumnya. Orang ini belum bisa dikatakan bertakwa, karena baru sebatas  mengakui kebenaran ayat “sesungguhnya khamr, dan perjudian, serta mengundi nasib adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syetan”, namun dirinya belum mampu mejadikan ayat tersebut  pedoman hidupnya.

Namun ada juga orang yang tidak suka meminum minuman keras namun dia mengatakan, “bagi saya minuman keras tidak haram meskipun saya tidak meminumnya”, orang ini juga tidak bisa dikatakan bertaqwa, karena sebatas dhohir atau tampaknya saja dia menjalankan aturan Allah namun sebenarnya dia tidak mengakui kebenaran ayat-ayat Nya.

Maka seseorang bisa disebut bertakwa ketika dia meyakini kebenaran Al Qur’an sepenuh hati, serta senantiasa berusaha menjadikannya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupannya. Dan ketika sesorang telah bertaqwa kepada Allah SWT maka Allah SWT pun akan memuliakannya.

Dan siapakah yang mampu melampaui kemuliaan seorang manusia yang dimuliakan Allah ?!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)