Langsung ke konten utama

Jangan Pilih Kasih Terhadap Anak-anakmu

Jangan Pilih Kasih Terhadap Anak-anakmu
Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan. Islam menghimbau para pemeluknya untuk menempatkan segala sesuatu secara proporsional, tidak dikurang-kurangi dan juga tidak dilebih-lebihkan. Termasuk salah satunya dalam perkara hubungan orang tua dengan anak-anaknya.

Mengenai pentingnya sikap adil orang tua di antara anak-anaknya, Rasulullah SAW bahkan mengaitkannya dengan perkara takwa.

اِتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا فِي أَوْلَادِكُمْ

“Bertakwalah kalian kepada Allah dan berlaku adillah kalian terhadap anak-anak kalian” (HR Muslim)

Sikap adil akan mencegah datangnya rasa benci serta dengki, dan akan menumbuhkan kecintaan dan kerukunan di antara saudara. Sikap adil juga bisa membuat anak-anak  menjadi kompak dalam berbakti serta mendoakan kedua orang tuanya.

Dalam sebuah atsar yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik RA bahwa seorang laki-laki bertamu kepada Nabi SAW kemudian anak laki-lakinya datang. Ia pun langsung mencium anak laki-lakinya itu dan mendudukkannya di atas pahanya. Tidak lama kemudian anak perempuannya datang dan ia menyuruhnya untuk duduk di hadapannya. Melihat hal tersebut Nabi SAW bersabda, “Mengapa engkau tidak memperlakukan mereka secara adil?”

Begitu mulianya Rasulullah, begitu bijaksananya beliau, bahkan dalam perkara mencium anak pun beliau menghimbau para orang tua untuk berlaku adil dan menjauhi sikap pilih kasih.

Pada suatu ketika sahabat Nu’man bin Basyir datang kepada Raulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku telah memberikan sesuatu kepada anak laki-lakiku yang dari Amarah binti Rawwahah, lalu Amarah menyuruhku untuk menghadap kepadamu agar engkau menjadi saksinya.”

Rasulullah SAW pun bertanya, “Apakah engkau juga memberikan hal yang sama kepada anak-anakmu yang lain?”

Nu’man menjawab, “Tidak.”

Rasulullah pun bersabda, “Bertakwalah kamu kepada Allah dan berlaku adillah kamu di antara anak-anakmu.”

Maka Nu’man pun mencabut kembali pemberiannya.

Maka sudah seharusnya para orang tua yang baik menyadari bahwa berlaku adil terhadap anak merupakan sebuah kewajiban. Sikap adil di sini tentu pada hal-hal yang bersifat lahiriah yang dapat dilihat dan diketahui oleh anak-anak. Adapun mengenai perasaan yang tersimpan di dalam hati,apabila ayah maupun ibu mempunyai rasa sayang yang lebih terhadap salah satu anaknya maka hal ini dimaafkan dan tidak menjadi dosa bagi seorang ayah maupun ibu. Selama perasaan berlebih itu hanya terpendam dalam hati, tidak sampai ditampakkan dalam muamalah lahiriah bersama anak-anaknya.

Hal tersebut dapat dianalogikan dari hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA yang menjelaskan tidak adanya dosa terhadap kecenderungan hati yang tidak sama bila dalam persoalan lahiriah telah adil, baik yang berkaitan dengan anak maupun istri.

اللهم هذا قسمي فيما أملك فلا تلمني فيما تملك ولا أملك

“Ya Allah, inilah pembagianku dengan semaksimal kemampuanku. Oleh karena itu, janganlah engkau mencelaku terhadap apa yang engkau mampu, sedangkan aku tidak mampu.” (HR Abu Dawud)

Imam Abu Dawud menjelaskan bahwa yang dimaksud Rasulullah SAW di sini adalah kemampuan hati.

Dan para orang tua juga bisa mengambil pelajaran dari kisah Yusuf AS. Bagaimana ketika ayahnya terlalu menampakkan kecenderungan rasa sayang berlebih kepadanya, saudara-saudaranya menjadi iri dan tersakiti. Mereka pun merencanakan sebuah tipu daya yang jahat, mereka sampai berupaya membunuh Yusuf agar enyah dari pandangan mereka.

Wallahu a’lamu bisshowab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)