Langsung ke konten utama

Dengan Siapa Kamu Berteman

Keluarga Dakwah - Tips Keluarga Bahagia 56 adalah "Dengan Siapa Kamu Berteman"

Memilih teman termasuk masalah yang banyak mempengaruhi kehidupan rumah tangga baik negatif maupun positif. Secara tabiat manusia adalah makhluk sosial, mereka tak akan merasakan kenyamanan hidup tanpa adanya teman, tetangga, dan kerabat.

Sangat penting bagi suami-istri untuk memilih teman dan teman yang baik  bagi keduanya maupun anak-anaknya. Teman-teman itu akan menolong mereka untuk taat kepada Allah, interaksi bersama masyarakat, dan aspek-aspek kehidupan lainnya secara positif. Supaya dengan itu semua kehidupan keluarga menjadi baik dan istiqomah di jalan Allah Ta’ala, serta kehidupan yang tenang dan stabil. Allah Ta’ala berfiman:

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf [43] : 67)

Ayat ini menjelaskan pentingnya teman-teman yang shalih, pertemanan mereka tidak putus dengan kematian, sedangkan teman buruk berubah pertemanan mereka menjadi permusuhan pada hari kiamat

Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM  bersabda:

“Seseorang akan sesuai dengan agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang kalian melihat kepada siapa ia berteman,” (Shahih At-Tirmidzi)

Seruan dalam hadist ini bukan hanya ditunjukan kepada laki-laki, namun juga perempuan.

Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda:

“Jangan berteman kecuali dangan orang mukmin, dan jangan ada yang makan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (Hadist hasan, Shahih At-Tirmidzi)

Hadist ini menjelaskan bahwa memilih teman termasuk kewajiban agama. Seorang muslim tidak boleh memilih teman yang jauh dari rambu-rambu syariat.

Termasuk perkara yang sangat penting untuk diperhatikan adalah teman-teman dunia maya di media sosial maupun alat elektronik lainnya. Ada kalanya mereka lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Terkadang meraka menjerumuskan sebagian laki-laki, perempuan, pemudi ke dalam dekadensi moral dan rusaknya agama, tanpa sepengetahuan keluarganya. Realita menjadi saksi nyata untuk itu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)