Langsung ke konten utama

Menjaga benteng | Tips Keluarga Bahagia

Keluarga Dakwah - Diharamkan secara syar’i bagi seorang perempuan berkhalwat (menyendiri) bersama laki-laki asing, baik di dalam maupun di luar rumah. Jika perempuan terpaksa berkhalwat bersama seorang laki-laki seperti dokter dan lainnya, maka hendaknya ia bersama seorang laki-laki dari mahramnya. Ia harus tetap menjaga diri dan berhijab sempurna untuk menjaga dan pihak lain, sekaligus menjaga keluarga dan masyarakat. Perintah ini juga diterapkan bagi laki-laki. Ia tidak boleh berkhalwat dengan perempuan asing apapun alasannya kecuali karena darurat, dan si perempuan didampingi oleh mahramnya.

Meremehkan masalah khalwat akan menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan rumah tangga. Ada kalanya salah satu suami-istri akan terpikat dengan orang lain, akhirnya melemahkan hubungan rumah tangga dan bercerai. Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda :

“Janganlah seorang lelaki berkhalwat dengan perempuan, karena yang ketiganya adalah setan.” ((Hadist Shahih, Musnad Ahmad)

Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda :

“Janganlah seorang lelaki berkahlwat dengan perempuan, dan janganlah perempuan melakukan safar kecuali bersama mahram.” (Shahih Al-Bukhori)

Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda, 
“Janganlah kalian menemui para wanita!” seorang Anshar bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan ipar?” Beliau menjawab, “Ipar adalah kematian.” (Shahih Al-Bukhori). 
“Ipar” maksudnya kerabat suami baik itu adik atau kakak, paman dari pihak ayah, paman dari pihak ibu, dan seterusnya. Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM menyamakannya dengan kematian karena tidak ada satu pun yang meragukannnya.

Aisyah RA berkata, “Paman sepersusuanku datang dan meminta izin untuk bertemu denganku, namun akun enggan untuk mengizinkannya hingga aku bertanya kepada Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM. Lalu datanglah Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM, maka aku bertanya tentang itu, Beliau menjawab, “Dia adalah pamanmu, izinkanlah.” (Shahih Al-Bukhori). Hadist ini menunjukan pemahaman Aisyah RA terhadap perintah hijab, ia tidak rela duduk dengan paman sepersusuannya hingga jelas kebolehannya.

(Dirangkum dari 99 Tips Rumah Tangga Bahagia, Dr. Musyabbab bin Fahd Al-Ashimi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)