Langsung ke konten utama

Strategi Rasulullah Menegur Anak yang Bandel


Keluarga Dakwah - Sebagaimana manusia biasa, anak-anak pun tak pernah luput dari kesalahan. Terlebih di era digital seperti ini, pengaruh berbagai macam media justru semakin meningkatkan kenakalan anak-anak hingga para remaja. Contohnya, dalam beberapa video yang viral di media sosial nampak anak-anak usia sekolah yang tak sungkan melawan atau bersikap tidak sopan terhadap guru mereka, dan beberapa bentuk kenakalan lainnya seperti tawuran, pacaran dan lainnya.

Untuk itu, sudah saatnya anak-anak mendapatkan teguran atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Namun kita tidak bisa sembarangan menegur atau menghukum anak-anak, karena kita harus menegurnya sesuai dengan tuntunan agama. Rupanya, Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada umat Islam untuk menegur kesalahan anak dengan lima cara berikut ini.

Pertama, yaitu dengan melalui teguran secara langsung sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW kepada Umar bin Abi Salamah. Saat itu Umar memiliki kebiasaan mengulurkan tangan ke berbagai penjuru saat makan. Lalu Rasulullah menegurnya dengan lembut sembari berkata, “Nak! Bacalah basmallah terlebih dahulu! Makanlah dengan tangan kanan dan mulailah dari yang di dekatmu!” (HR. Bukhari & Muslim)

Kedua, yaitu dengan melalui sindiran seperti yang beliau SAW lakukan kepada para anak didiknya. Saat itu beliau SAW menyindir dengan mengatakan, “Apa keinginan kaum yang menginginkan begini dan begitu? Sesungguhnya aku shalat dan tidur, aku berpuasa dan berbuka, dan aku pun menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak senang dengan sunnahku, berarti dia bukan dari golonganku.” (Shahih Jami’ al-Shagir)

Ketiga, yaitu melalui celaan apabila teguran dan sindiran sudah terasa tidak mempan. Suatu ketika, Rasulullah SAW pernah mencela Abu Dzar al-Ghifari karena ia telah memaki seseorang dengan menyebut nama ibunya sehingga membuatnya malu. Rasulullah SAW menegurnya dengan perkataan, “Wahai Abu Dzar! Apakah engkau telah mempermalukannya dengan menyebut nama ibunya?  Sesungguhnya pada dirimu masih melekat sifat jahiliyah.” (HR. Bukhari)

Keempat, yaitu dengan pemutusan hubungan secara sementara. Jika ketiga cara sebelumnya belum membuahkan hasil, maka pemutusan hubungan secara sementara bisa dilakukan. Saat Ka’ab bin Malik ra tidak mengikuti perang Tabuk, sanksi yang diberikan Rasulullah SAW padanya adalah Nabi melarang para sahabat berbicara dengannya sampai 50 malam dan pemutusan hubungan secara sementara. (HR. Bukhari)

Kemudian puncaknya, apabila anak sudah tidak bisa dinasehati dan disadarkan dari kesalahan yang telah ia perbuat maka hendaknya cara yang kelima pun dilakukan. Yaitu melalui pemukulan. Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Hakim ada perintah kepada orangtua agar menyuruh anaknya shalat saat berusia 7 tahun. Ketika sudah berumur 10 tahun tidak shalat, maka diperintahkan untuk ‘memukul’ anak.

Namun pemukulan tersebut tidak dilakukan secara membabi buta dan harus sesuai dengan tuntunan agama Islam. Yaitu hanya sedikit pukulan kecil pada bagian tubuh yang aman seperti halnya kaki. Untuk hukuman semacam tersebut Rasulullah SAW pernah bersabda, “Gantunglah cemeti (cambuk) agar keluarganya tahu. Karena yang demikian adalah pelajaran bagi mereka.” Atau dalam hadis lain, “Dan gantunglah cemeti agar keluarganya tahu.” (HR. Thabrani)

Demikianlah lima cara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam menegur anak atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Kelima cara tersebut yaitu melalui teguran secara langsung, sindiran, melalui celaan, melalui pemutusan hubungan sementara, ataupun dengan cara sedikit memukul di bagian tubuh yang aman. Dengan demikian, semoga anak-anak bisa menyadari kesalahan yang telah mereka lakukan.

Wallahu a’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)