Langsung ke konten utama

Suami Bukanlah Majikan Istri


Keluarga Dakwah - Laki-laki dan perempuan memang tidak sama, tetapi keduanya setara. Allah menegaskan hal ini dalam banyak ayat di Quran. Beberapa di antaranya adalah (QS. An-Nahl [16]: 97), “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Sementara di QS. An Nisa [4]: 124, Allah juga menegaskan narasi yang serupa. “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” Di banyak tempat lain di al Quran, Allah menyatakan hal yang sama.

Allah tidak membeda-bedakan laki-laki dengan perempuan, selama keduanya beriman dan berbuat baik, maka doa dan ibadahnya akan diterima.

Lantas bagaimana dengan kedudukan suami dan istri? Islam menjamin keharmonisan hubungan ini dengan berbagai panduan. Salah satunya adalah yang diungkap oleh Imam Ghazali dalam Al-Adab fid Din . Ulama ini menjelaskan perihal adab yang harus dimiliki oleh suami terhadap istri.

Ada total 12 jumlahnya. Yakni: berinteraksi dengan baik, bertutur kata yang lembut, menunjukkan cinta kasih, bersikap lapang ketika sendiri, tidak terlalu sering mempersoalkan kesalahan, memaafkan jika istri berbuat salah, menjaga harta istri, tidak banyak mendebat, mengeluarkan biaya untuk kebutuhan istri secara tidak bakhil, memuliakan keluarga istri, senantiasa memberi janji yang baik dan selalu bersemangat terhadap istri. (Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali [Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah: 442])

Adab di atas tidak sedikitpun menyinggung tentang kebolehan memperlakukan istri laiknya budak atau tawanan; harus bersedia melayani kapanpun suami minta. Model hubungan seperti demikian, suami berlagak laiknya juragan sementara istri diperlakukan laiknya tawanan, adalah ciri utama masyarakat Jahiliyah; bodoh dan terbelenggu dalam kegelapan. Karenanya tak heran, masyarakat Jahiliyah memandang dan memperlakukan perempuan tak lebih sebagai obyek seksual saja.

Kembali kepada 12 adab suami terhadap istri, Islam mengajarkan setiap suami untuk hormat terhadap istri. Jangankan untuk melakukan pemaksaan berhubungan badan –yang tentu sarat dengan kekerasan—, untuk berkomunikasi sehari-hari saja, suami diperintahkan untuk menggunakan kata-kata yang lembut. Suami juga tidak boleh menunjukkan amarah di depan istri, itu sebabnya mereka diminta untuk lebih mengedepankan kasih sayang terhadap pasangan hidupnya.

Jika terhadap istri saja kita diperintah untuk hormat, apalagi terhadap perempuan-perempuan lain yang tak memiliki hubungan langsung; kita diminta untuk tetap menjaga harga diri, salah satunya dengan menjaga pandangan. Jangan sampai perilaku kita membuat mereka risih dan terganggu.

Semoga kelaki-lakian kita tak dimaknai sebagai kebolehan untuk berbuat sesuka hati terhadap perempuan. Astaghfirullah. (islamco / Keluarga Dakwah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)