Langsung ke konten utama

Ketika Menasehati Suami Tapi Mendapatkan Dosa


Kelaurga Dakwah - Prof. Dr. Sulaeman bin Hamad al Audah, dalam bukunya Al-Mar-atu  wad Da’watu fii ‘Ashari an Nubuwwah (2014) menuliskan:

“Dalam masalah dakwah wanita terhadap suaminya terdapat pelajaran yang dapat diambil dan petunjuk Nabawi yang dapat diteladani. Maka di samping upaya dakwah seorang wanita terhadap suaminya yang mengajak kepada kebaikan, maka tidak seyogyanya dakwah ini diiringi dengan sesuatu yang dapat menimbulkan emosi suami, yang mengakibatkan marah dan mencelanya sehingga perkara yang ma’ruf berubah menjadi mungkar, atau bahkan mendapatkan dosa bukan pahala.

Marahnya suami merupakan sesuatu  yang besar,  sedangkan tujuan dakwah adalah mewujudkan kebaikan dan menegaskan perkara yang ma’ruf. Sedangkan pertikaian antara suami istri apalagi jikalau hal itu mengakibatkan cerai diantara keduanya adalah dari perbuatan syaithan dan sedangkan dakwah harus dilakukan dengan hikmah dan nasihat yang baik.

Perkara itu yang mesti diwaspadai oleh seorang wanita bahkan tatkala suami memiliki beberapa kekurangan dalam masalah ibadah karena kelemahannya atau karena udzur yang dimilikinya,  maka janganlah ia menganjurkannya untuk melakukan suatu amalan dari bentuk taqorrub kepada Allah sedangkan ia tidak mengizinkannya, atau berkeluh kesah ketika sang suami melakukan penolakan untuk melakukan ketaatan tersebut. Karena bisa jadi ketaatannya kepada suami harus lebih dikedepankan oleh wanita tersebut.”

*

Hati istri mana yang tidak tersentak membacanya?  Tulisan yang berisi peringatan bagi para istri yang salah bersikap dalam menasehati suaminya. Padahal keinginannya luhur:  Ingin suaminya menjadi suami yang lebih baik, lebih sholih, lebih dekat dengan Allah. Namun ternyata  justru diingatkan oleh Syaikh Sulaiman dengan keras bahwa bila caranya menasehati suami salah, ternyata sang istri bisa jadi bukan  sedang menjalankan amalan ma’ruf, justru malah mungkar. Akhirnya dosa-lah yang didapatkannya.

Mari kita diam sejenak…

Memutar kembali slide kehidupan yang lalu.

Pernahkah kita ngambek berat sampai mendiamkan suami karena ketika kita ingatkan suami tidak mau “nurut”?

Pernahkah kita memaksakan kehendak kita karena kita yakin kita benar, hingga  gantian suami yang kemudian mendiamkan kita?

Pernahkah kita merasa lebih tahu hingga merendahkan suami dengan kata-kata yang kita bahkan sudah tahu akan sangat menyakitinya

Pernahkah kita tidak membiarkan suami mengambil keputusan, karena tidak percaya pada keputusan  yang akan diambilnya?

Pernahkah kita merasa benar dengan pendapat kita, hingga memasang wajah menyepelekan suami dan mengingkari keputusan yang dibuatnya?

Astagfirullah…..Astagfirullah…..Astagfirullah.

Sesungguhnya bagian dari kearifan seorang perempuan dalam berdakwah adalah menjaga prioritas dan memahami kebutuhan suami. Lakukan lah kajian mendalam untuk mewujudkan kemaslahatan bersama antara suami dan istri.

Bukan sekadar mendakwahi suami dengan tanpa memperhatikan dampak dan akibatnya.

Tetapi yang harus dijadikan target bagi kita adalah memberikan motivasi dalam kebenaran dan penerimaan nasihat terutama dalam hal-hal yang bersifat sunnah baik dari perkataan maupun perbuatan.

Maka pemahaman perempuan dalam dakwah secara umum dan terhadap suaminya secara khusus akan dapat mewujukan hasil yang baik dan menghilangkan dampak buruk. (Parenting Nabawiyah / keluarga Dakwah) 

Allahu’alam bish-shawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)