Langsung ke konten utama

Kokohkan Bahtera, Karena Lautan Itu Dalam


Keluarga Dakwah  - Sakinah, mawaddah wa rahmah tentu menjadi dambaan semua keluarga. Rumah tangga yang diliputi suasana tenteram, cinta dan kasih sayang sesama anggota keluarga. Tak ada yang terlihat di sana selain pemandangan yang menyejukkan mata. Untuk cita-cita inilah kita pantas berdoa kepada Allah Ta’ala, “Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk pandangan mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Furqan 74).

Hasan al-Bashri rahimahullah ditanya tentang ini, “Wahai Abu Sa’id, apakah ayat ini berlaku di dunia atau di akhirat?” Beliau menjawab, “Ini berlaku di dunia, yakni ketika suami melihat istri dan anak-anaknya melakukan amal shalih yang menyenangkan hati.”

Kokohkan Bahtera

Jika di tengah perjalanan bahtera rumah tangga harus berhadapan dengan prahara yang menerpa, itu bukan pertanda kiamat keluarga menjelang tiba. Tapi, ujian yang membuat masing-masing anggota keluarga untuk makin dewasa, makin mengerti kekurangan dirinya, makin tahu hak keluarga atasnya, dan selanjutnya menjadi acuan untuk memperbaiki diri dan keluarganya.

Pada prinsipnya, problem keluarga bisa dicegah sebelum terjadinya. Kokohkan bahtera sebelum mengarungi dalam dan luasnya samudera. Selain mengetahui hak dan kewajibannya, memahami apa yang disukai dan apa yang dibenci oleh pasangannya, adalah perisai ampuh dari prahara rumah tangga. Betapa pun suami telah terbina, istri telah tunduk terhadap syariat agama, toh mereka manusia biasa, yang tidak lepas dari kecenderungan kepada kebiasaan tertentu, atau antipati terhadap hal-hal tertentu. Ini wajar dan sah-sah saja, selagi bukan kecenderungan kepada maksiat, atau antipati terhadap syariat.

Di samping keutamaan dan kelebihan pasangan yang layak mendapat apresiasi, perlu juga untuk mengerti kekurangan untuk ditutupi, bukan untuk dipecundangi. Juga memahami kelemahan untuk dikuatkan, bukan untuk dijatuhkan. Ini menjadi penopang penting bagi tegaknya bangunan rumah tangga. Jika tidak, maka keretakan segera merata, robohnya bangunan tinggal menunggu waktunya. Ada contoh bagus dari sahabat Abu Darda’ yang berkata kepada istrinya, “Jika aku marah, engkau jangan ikut marah, kalau kamu marah, aku akan berusaha untuk tidak marah. Sebab, jika kita sama-sama marah, alangkah cepatnya perpisahan kita.”

Komunikasi yang kurang cair, terlalu ‘formal’ atau cenderung kaku menjadi hambatan menuju keharmonisan keluarga. Pun, ketika problem menimpa, relatif sulit untuk menyelesaikannya. Maka perlu membiasakan cara komunikasi yang romantis, senda gurau seperlunya yang tidak menjatuhkan kewibawaan, atau canda yang tidak menyakitkan dan mengandung unsur pelecehan.

Berani mengakui kesalahan sendiri, dan mengakui keutamaan anggota keluarga adalah cara dewasa untuk menyelesaikan persoalan, disamping sangat efektif mencegah terjadinya percekcokan. (jkdklaten / Keluarga Dakwah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)