Langsung ke konten utama

Hamba yang Kurang Bersyukur


Keuarga Dakwah -  Perkataan al-Qahthani dalam Nuniyahnya. 


وَاللهِ لَوْ عَلِمُوْا قَبِيْحَ سَرِيْرَتِيْ


لأَبَى السَّلاَمَ عَلَيَّ مَنْ يَلْقَانِيْ


وَلَأَعْرَضُوْا عَنِّيْ وَمَلُّوْا صُحْبَتِيْ


وَلَبُؤْتُ بَعْدَ كَرَامَةٍ بِهَوَانِ


لَكِنْ سَتَرْتَ مَعَايِبِيْ وَمَثَالِبِيْ


وَحَلِمْتَ عَنْ سَقَطِيْ وَعَنْ طُغْيَانِيْ


فَلَكَ الْمَحَامِدُ وَالْمَدَائِحُ كُلُّهَا


بِخَوَاطِرِيْ وَجَوَارِحِيْ وَلِسَانِيْ


وَلَقَدْ مَنَنْتَ عَلَيَّ رَبِّ بِأَنْعُمِ


مَالِيْ بِشُكْرِ أَقَلِّهِنَّ يَدَانِ


Demi Allah, seandainya mereka mengetahui jeleknya hatiku


Niscaya orang yang bertemu denganku akan enggan menyalamiku


Mereka akan berpaling dariku dan bosan berteman denganku


Aku akan menjadi hina setelah mulia


Tetapi Engkau menutupi kecacatan dan kesalahanku


Dan Engkau bersikap lembut dari dosa dan keangkuhanku


Bagi-Mu lah segala pujian dengan hati, badan dan lidahku


Sungguh, Engkau telah memberiku nikmat yang begitu banyak


Tetapi aku kurang mensyukuri nikmat-nikmat tersebut


[Nuniyah al-Qohthoni hal. 9 ]


Dan juga perkataan Muhammad bin Wasi, “Kalau seandainya dosa memiliki bau niscaya tak ada yang sudi bermajlis denganku (karena saking busuknya bau dosaku).”


Ya, kalian tidak tahu betapa busuknya jiwa ini. Allah, aku malu. Aku malu kepada-Mu bila harus menasehati hamba-hamba-Mu padahal Engkau lebih tahu siapa sebenarnya hamba-Mu ini. Tertutupnya dosa-dosa yang hamba lakukan adalah karena kasih sayang-Mu yang tercurah selalu.  Tetapi karena pesan di atas adalah meminta nasehat, maka aku sebagai hamba-Mu ingin melaksanakan salah satu wasiat nabi-Mu, “Jika ada salah seorang di antara kalian meminta nasehat, maka nasehatilah ia.” (HR. Bukhari ).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)