Langsung ke konten utama

Menerima Kekurangan Suami


Keluarga Dakwah - Pada umumnya semua wanita menginginkan sosok suami yang shaleh, rajin ibadah, tampan, mapan penghasilannya, matang kepribadiannya. Kemudian  juga penyayang, penuh perhatian dan pengertian, sabar, romantis, ceria dan setia . Namun sayangnya, sosok suami yang sempurna seperti itu hanya ada di dunia fiksi, bukan di muka bumi ini.

Sebenarnya, keinginan itu wajar dan tidak salah bagi seorang istri. Yang tidak wajar dan salah adalah tidak menyesuaikan keinginan dengan takdir jodoh suami yang Allah SWT sudah tetapkan. Serta tidak menyesuaikan keinginannya di atas dengan kondisi dirinya yang belum juga sempurna.

Sehingga seorang istri harus adil dan proposional dalam menyikapi kekurangan dan kelebihan suaminya. Kalau kelebihan dan kebaikannya jelas dan pasti bisa menerimanya karena itulah yang diharapkan oleh para istri seperti kelebihan-kelebihan di atas.

Kemudian kekurangan pada suami inilah yang terkadang belum bisa diterima oleh istri. Seperti  mungkin karena gaji pas-pasan, kurang berpenampilan, menjengkelkan, rewel, pencemburu, suka marah-marah, malas. Namun kekurangan suami bukanlah suatu harga mati yang tidak bisa diubah lagi.

Menyikapi kekurangan suami, bukan sekadar pasrah menerimanya apa adanya atau menerima mentah-mentah tanpa berbuat apa-apa. Sebab sikap seperti itu terkadang mengandung unsur terpaksa dan menyisakan kekecewaan yang sewaktu-waktu meledak, menyimpan ketidak ikhlasan yang memunculkan penyesalan dan kemarahan.

Kekurangan yang bersifat fisik seperti penampilan kurang menarik atau cacat harus dikembalikan kepada penciptanya yaitu Allah SWT. Artinya semua yang diciptakan oleh Allah SWT adalah yang terbaik dan mengandung hikmah di baliknya sehingga harus ikhlas dan sabar menerimanya. Jika tidak menerima atau mencela ciptaan Allah SWT, bisa terjebak dalam perbuatan tercela karena mencela Allah SWT secara tidak langsung.

Kemudian kekurangan yang berhubungan dengan perilaku atau sikap, bisa diubah dengan senantiasa berlatih dan mengingatkan. Mungkin perlu waktu dan kesabaran untuk mengubah sebuah prilaku yang sudah menjadi kebiasaan lamanya.

Kekurangan suami bukan harga mati yang seolah tidak bisa diubah atau diperbaiki. Suami adalah laki-laki biasa yang jika ada usaha dan doa dengan ijin Allah SWT maka karakter, sikap akan bisa diperbaiki dengan bertahap.

Pada dasarnya suami ingin memberikan yang terbaik kepada istrinya. Tapi terkadang kurang tahu dan kurang mampu bagaimana caranya. Sehingga istri bisa membuka hati dan wawasan suami dengan tanpa mengguruinya tentang sikap-sikap positif yang harus dimiliki oleh seorang suami.

Selanjutnya yang juga penting adalah tidak mengumbar kekurangan suami kepada orang lain. Entah keluarga, saudara, sahabat apalagi ke teman atau tetangga. Lebih parah lagi jika diumbar ke media sosial yang akan menjadi bulan-bulanan nitizen. (oleh Abdul Ghofar Hadi, Pengajar di Hidayatullah Ummul Qura Balikpapapan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)