Langsung ke konten utama

Hangat Kepada Pasangan

 



Bercengkrama bersama pasangan itu perlu. Setidaknya mengobrol santai, walau tidak lama, jika memang sibuk dan tubuh penat. Jangan sampai kesenangan sesaat bersama hp atau apa pun merampas kenyamanan di rumah. 

Mari singgah sejenak, menengok sebentar ke rumah Rasulullah ﷺ. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, 

“Di antara akhlak Nabi Muhammad ﷺ ialah ramah dalam bergaul, selalu riang, bersenda gurau dan hangat kepada istri-istrinya, menafkahi dan tertawa bersama mereka. Bahkan beliau pernah berlomba lari bersama Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha untuk membahagiakannya. 

Aisyah mengajak, “‘Mari lomba lari bersamaku wahai Rasulullahʼ, kami pun berlomba dan aku berhasil mengalahkan beliau, tubuhku waktu itu belum berisi. Di lain waktu, aku kembali mengajak beliau berlomba sedang tubuhku mulai berisi, dan beliau mengalahkanku, saat itu beliau berseloroh, ‘Kemenangan ini untuk membalas yang waktu ituʼ.”


Tiap malam, beliau ﷺ mengumpulkan seluruh istrinya di rumah istri yang menjadi giliran beliau menginap malam itu; kadang-kadang mereka makan malam bersama, lalu mereka pulang ke rumahnya masing-masing... Jika selesai shalat isya, beliau pulang ke rumah dan berbincang beberapa saat sebelum tidur untuk menyenangkan hati pasangannya. Dan Allah telah berfirman, 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ 

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (Q.S. Al-Ahzab: 21) —selesai perkataan Ibnu Katsir—

📚 Tafsir Al-Qurʼan Al-Azhim, 2/242.

Sungguh, betapa indahnya.

Maka sangat baik jika suami dan istri, masing-masing berusaha untuk menunjukkan kehangatan kepada pasangannya. Jangan hanya di awal-awal pernikahan atau saat ada yang diinginkan. (Nasehat Etam)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)