Langsung ke konten utama

Keutamaan Menjawab Azan

Keutamaan Shalat
Keluarga Dakwah - Keutamaan Menjawab Azan

 Hadits

Abdulah bin Amr bin Ash ra, meriwayatkan bahwa ia mendengar Nabi bersabda, "Apabila kalian mendengar muazin mengumandangkan azan maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan kemudian bershalawatlah kepadaku. Sesungguhnya, siapa yang bershalawat kepadaku suatu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian, mintalah untukku al-wasilah. Ia adalah sepuluh kali. Kemudian, mintalah untukku al-wasilah. Ia adalah sebuah kedudukan di surga yang tidak patut (diduduki), kecuali bagi hamba di antara para hamba Allah. Dan aku berharap, akulah hamba tersebut. Barang siapa memintaku aku al-wasiila maka syafaatku halal baginya. (HR. Muslim no 384)

 Hadits

Jabir bin Abdullah ra, meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, "Barangsiapa siapa setelah mendengar seruan azan membaca doa (yang artinya): 'Ya Allah, Rabb seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan didirikan, karuniakanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, serta tempatkanlah beliau di tempat yang terpuji seperti yang Engkau janjikan kepadanya,' maka dihalalkan baginya syafaatku pada hari kiamat kelak." (HR. Bukhari no 614)

Hadits

Saad bin Abu Waqash ra, meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, "Barang siapa ketika mendengar muazin mengucapkan, 'Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah(yang berhak diibadahi), kecuali Allah semata; tiada sekutu bagi-Nya. Dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Aku ridha Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai Rasul, dan Islam sebagai agama,' maka dosa-dosanya diampuni." (HR. Muslim no 386)

Keutamaan Menjawab Azan

Mendapat syafaat dari Rasulullah

SERI KAJIAN SHAHIH FADHILAH AMAL#40

(SHAHIH FADHILLAH AMAL, Syaikh Ali bin Nayif Asy-Syuhud. Halaman 129 - 130)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)