Langsung ke konten utama

“Satu Permintaan Ringan”

“Satu Permintaan Ringan”
Keluargadakwah.com - Kenikmatan dan keindahan dunia sering kali melalaikan manusia dari tugas utamanya, yaitu beribadah kepada Allah. Banyak keinginan duniawi yang ingin diwujudkan. Demi meraihnya, dibuatlah segala macam rencana dan strateginya. Tidak jarang, dari semua rencananya itu menuntut adanya kerelaan untuk mengorbankan apa yang disukai oleh dirinya. Bahkan sampai pada taraf membahayakan diri sendiri.
Lihat saja apa yang di kerjakan oleh pemburu dunia. Tidak peduli siang atau malam, ketika iming-iming materi yang menggiurkan ada di depan mata dengan resiko berbahaya langsung saja dikerjakan olehnya. Tidak peduli pula dengan kehormatan dan harga diri, tatkala uang segepok di pelupuk mata, apa pun resikonya siap dilaksanakan.

Kesibukan duniawi yang menguras pikiran dan tenaga sering membuat hati tak sempat lagi untuk memikirkan bagaimana sholat khusyu’. Bahkan sekedar untuk berdzikir mengucapkan kalimat thoyyibah tak lagi ada waktu untuknya. Semua potensi diri difokuskan untuk target dunianya. Tidak jarang pula, niatan ibadah yang mulia ditujukan hanya demi kesuksesan dunianya. Mulailah kecintaan kepada dunia disejajarkan dengan kecintaan kepada Allah. Tak pelak, perbuatan syirik pun terjadi tanpa disadari.

Sementara ketika umur telah beranjak senja, jasad tak lagi mampu menyangga. Ungkapan keluh dan kesah selalu menghiasi lisannya. Tidak ada lagi rasa syukur dan sabar, yang ada justru prasangka buruk kepada Sang Pemberi hidup. Sebuah pertanyaan mendasar menggelayuti pikiran, Apa yang diperoleh dari semua kerja kerasnya selama ini?! Semua berujung pada fatamorgana dunia.

Bagi jiwa yang berharap kebaikan dunia dan akhirat, masihkah terbersit dalam benak pikirannya akan kewajiban yang banyak dan berat dalam kehidupan dunia ini ?! Sementara Allah Yang Maha Penyayang telah menegaskan tidak ada satu tugaspun yang diperintahkan kepada manusia dan jin selain dari beribadah hanya kepada-Nya. Di saat yang bersamaan Allah Yang Maha Pengasih juga telah menjamin keberlangsungan hidup dan rizki kita agar bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan benar. Simaklah bagaimana Allah ta’ala berfirman :

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)﴾

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah hanya kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberikan makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pemberi rizki lagi Pemilik Kekuatan yang kokoh”. (QS. Al Dzariyat; 56 – 58)

Dalam ayat lain Allah juga menegaskan bahwa kehidupan semua makhluk di dunia ini telah dijamin oleh-Nya termasuk juga manusia agar semua bisa menjalankan fungsi dan tugas utamanya yaitu hanya mengabdi kepada-Nya. Allah berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (6)


“Dan tidak ada dari binatang melatapun di muka bumi melainkan semua rejekinya telah ditanggung oleh Allah, dan Dia-lah yang mengetahui tempat berdiamnya dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang Nyata (Lauh Mahfudz)”. (QS. Hud: 6)

Namun banyak manusia menyangka kebutuhan hidupnya dicukupi oleh dirinya sendiri. Sehingga dengan kesibukannya itu membuat lalai dengan tugas utamanya. Sebuah kesalahan persepsi yang tanpa disadari bisa menjerumuskan seorang hamba ke dalam jurang kekufuran.

Ketika semua berada di hadapan Allah ta’ala, tak ada lagi yang bisa dibanggakan dari prestasi dan kerja keras duniawinya melainkan hanya prestasi ibadah kepada-Nya semata. Itulah satu permintaan dari Allah Yang Maha Penyayang. Namun sebagian besar manusia melalaikan dan mengabaikannya.

Sebuah hadits qudsi memberikan penjelasan kepada kita tentang satu permintaan dari Allah yang lebih ringan dibandingkan dengan siksaan penduduk neraka yang paling ringan. Dari Anas bin Malik –semoga Allah meridoinya- telah meriwayatkan dari Nabi Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda:


يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى لِأَهْوَنِ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَوْ أَنَّ لَكَ مَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ أَكُنْتَ تَفْتَدِي بِهِ فَيَقُولُ نَعَمْ فَيَقُولُ أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ هَذَا وَأَنْتَ فِي صُلْبِ آدَمَ أَنْ لَا تُشْرِكَ بِي شَيْئًا فَأَبَيْتَ إِلَّا أَنْ تُشْرِكَ بِي –رواه البخاري-

“Allah berfirman kepada penduduk neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat; Jikalau engkau memiliki semua yang ada di bumi apakah engkau mau menebus siksaan ini dengannya? Lalu berkatalah penduduk neraka yang paling ringan siksanya: Ya. Lalu Allah berfirman: Sejatinya Aku menghendaki dari engkau lebih ringan dari pada ini saat engkau berada di tulang sulbi Adam agar engkau tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Ku lalu engkau justru mengabaikannya dan berbuat syirik kepada-Ku”. (HR. Bukhori)

Masihkah kita merasa bahwa Allah ta’ala menuntut dari kita dengan tuntutan yang banyak?! Sementara Allah hanya menghendaki dari kita semua satu permintaan ringan saja agar kita tidak menyekutukan sesuatu apa pun dengan-Nya. Masihkah pula ada anggapan bahwa kita terlalu sibuk untuk mencukupi kebutuhan hidup sehingga lalai dengan kewajiban tauhid?! Sementara Allah telah menjamin kecukupan hidup di dunia ini agar seorang hamba bisa melaksanakan tugas tauhid dan menjauhi syirik.

Semoga Allah Yang Maha Penyayang senantiasa memberikan kepada kita semua petunjuk agar kita mampu menunaikan permintaan-Nya hingga akhir hayat nanti. Wallohu a’lam bis showab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)