Langsung ke konten utama

Menerima Sebuah Pinangan

Menerima Sebuah Pinangan
Pada suatu ketika ada seseorang yang lewat di hadapan Rasulullah SAW yang sedang duduk bersama para sahabat.

“Bagaimana pendapat kalian mengenai orang yang baru lewat tadi?”, tanya Rasulullah SAW kepada para shahabat.

“Orang itu merupakan orang terhormat, apabila meminang pasti diterima, apabila dimintai pertolongan pasti mampu menolong, dan ketika berbicara pasti orang-orang mendengarkannya.” Jawab para sahabat dan Rasulullah SAW pun diam mendengar jawaban mereka.

Lalu lewatlah seseorang dari golongan miskin yang bernama Ja’il bin Suraqah.

“Bagaimana pendapat kalian mengenai orang yang lewat tadi?” tanya Rasulullah SAW.

“Dia apabila meminang pasti tidak diterima, apabila dimintai pertolongan pasti tidak mampu menolong, dan ketika berbicara tidak ada yang mendengarkannya.”

Rasulullah SAW pun menanggapi jawaban para shahabat, “Ketahuilah bahwa orang yang kedua tadi lebih baik dari seisi bumi ini.”

Kisah di atas merupakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui sahabat Sahl bin Sa’ad RA. Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW ingin mengedukasi para sahabat agar tidak menilai seseorang berdasarkan kedudukan ataupun kekayaannya.

Hadits tersebut juga berkaitan mengenai kriteria calon suami yang baik menurut Rasulullah SAW, di mana kekayaan serta kedudukan tidak menjadi pertimbangan utama, namun aspek agama lah yang harus diperhatikan.

 Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ

Apabila telah datang kepadamu seorang laki-laki yang engkau ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu), dan jika kamu tidak mengerjakannya niscaya akan terjadi musibah dan kerusakan di muka bumi” (HR Tirmidzi)

Ketika mendengar hadits tersebut para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun dia memiliki sesuatu (kemiskinan atau cacat) ?”

Maka Rasulullah SAW menjawab dengan mengulang kalimat hadits tersebut sebanyak tiga kali.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ketaatan seseorang terhadap agama serta kemuliaan akhlak haruslah menjadi pertimbangan utama seorang wanita ketika akan menentukan pinangan.

Namun pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan beragama?

Karena terkadang kita jumpai seseorang yang ilmu agamanya tinggi namun rumah tangganya tak beraturan. Di lain pihak, kita sering menjumpai orang yang tak terlalu paham agama justru bisa mengatur rumah tangganya dengan baik.

Tolok ukur beragama memang bukan pada tingkat pengetahuan agama seseorang, jika seperti itu maka para orientalis mungkin bisa menjadi orang paling bertaqwa di muka bumi. Namun komitmen-komitmen terhadap hukum syar’I yang dia pahami itulah ukurannya.

Karena kita tidak pernah tahu seberapa ikhlasnya seseorang dalam beribadah, maka kita hanya bisa menilai dua aspek yang tampak. Yaitu sejauh mana komitmen seseorang terhadap ibadah-ibadah yang bersifat ritual seperti shalat, zakat, serta puasa dan sejauh mana komitmennya terhadap rambu-rambu dalam muamalah sesama manusia semisal kejujuran, amanah, serta komitmennya terhadap sebuah janji.

Yah memang tak ada manusia yang sempurna setelah Rasulullah SAW, namun bukan berarti tak ada pria yang istiqomah memperbaiki dirinya setiap waktu. Jadi kalian para wanita hanya perlu menerima pinangan pria yang menjadikan pernikahan sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan sebagai tempat istirahat dari beribadah kepada Allah SWT.

Dan terakhir ingatlah selalu bahwa yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah yang paling bertaqwa.

Maraji’:

  • At Taaj Al Jami’ Lil Ushul

  • Kado Pernikahan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)