Langsung ke konten utama

Ujian-Ujian yang Dihadapi Manusia

Ujian-Ujian yang Dihadapi Manusia
Jalinan Keluarga Dakwah - Allah SWT telah menetapkan sebuah tujuan pasti dari penciptaan manusia di muka bumi ini. Hal ini disampaikanNya dalam surat Al Mulk ayat 2,

Dialah yang menjadikan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya, dan Dia maha Perkasa lagi maha Pengampun.

Imam As Syaukani dalam kitab tafsirnya Fathul Qadir menyebutkan beberapa penafsiran para ulama mengenai kata “kematian” dan “kehidupan” pada ayat tersebut. Ada yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kematian adalah kematian di dunia, sedangkan kehidupan adalah kehidupan di akhirat kelak. Dan ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kematian adalah sperma, segumpal daging, dan segumpal darah, sedangkan kehidupan adalah ketika Allah menjadikan dari ketiga hal tadi seorang manusia dan meniupkan ruh ke dalamnya.

Namun terlepas dari mana pendapat yang kita pilih, hal itu tidak merubah kenyataan bahwa tujuan dari adanya kematian dan kehidupan adalah untuk menguji atau menentukan siapa saja manusia-manusia yang paling baik amalanya, siapa saja yang paling banyak mengingat dan takut akan kematian, siapa saja yang paling bersegera dalam ketaatan kepada Allah SWT, serta siapa saja yang paling mampu menahan diri dari perkara-perkara yang diharamkan Allah SWT.

Sehingga pada titik akhirnya nanti Allah SWT akan menentukan siapa-siapa saja yang layak untuk masuk dalam golongan yang disebut dalam surat Al Fajr ayat ke 29 dan 30,

Maka masuklah ke dalam (kumpulan) hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam surgaku.

Lalu perihal bagaimana bentuk ujian yang diberikan Allah SWT kepada manusia dalam menjalani kehidupannya di muka bumi ini, Allah SWT merincikannya dalam surat Al Baqarah ayat 155,

Dan sungguh kami akan mengujimu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan dalam hal harta, jiwa, dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira terhadap orang-orang yang bersabar

Ayat tersebut menjelaskan bahwa bentuk-bentuk ujian yang akan dihadapi manusia berkisar pada lima hal, yaitu diselimuti rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, berkurangnya jiwa, serta kurangnya persediaan buah-buahan.

Sahabat Ibnu Abbas RA mempunyai penafsiran yang cukup bagus mengenai “ketakutan” serta “kelaparan”. Sebagaimana dikutip oleh Imam Muhammad Al Qurthubi dalam kitabnya Al Jami’ liahkamil Qur’an, bahwa ketakutan adalah rasa takut terhadap musuh serta kengerian dan kepanikan di medan perang. Sedangkan yang dimaksud dengan kelaparan adalah kelaparan yang disebabkan kekeringan dan hilangnya sumber-sumber air.  

Adapun “kekurangan harta” Imam Al Qurthubi sendiri memberikan penafsiran bahwa kekurangan harta di sini disebabkan oleh kesibukan kaum muslimin dalam memerangi orang-orang kafir. Sedangkan Imam As Syafi’i menjelaskan bahwa penyebab kekurangan harta di sini adalah terbebaninya kaum muslimin dengan kewajiban zakat. Sehingga kesediaan serta kelapangan hati seorang muslim ketika harus mengurangi sebagian harta yang dimilikinya untuk membayar zakat merupakan sebuah ujian tersendiri.

Lalu mengenai “berkurangnya jiwa”, Ibnu Abbas RA menyatakan bahwa hal ini disebabkan banyaknya kaum muslimin yang mati terbunuh di medan jihad. Adapun Imam As Syafi’i berpendapat bahwa penyebabnya adalah menyebarnya wabah penyakit.

Dan terakhir mengenai “kekurangan buah-buahan”, menurut Imam As Syafi’i kata itu merupakan kiasan yang bermakna kematian anak-anak kaum muslimin, karena anak merupakan buah hati seseorang. Adapun Ibnu Abbas RA memaknainya sebagai sedikitnya tumbuhan yang merekah tumbuh serta terputusnya barakah Allah SWT.

Sejatinya tidak ada masalah mengenai perbedaan penafsiran di antara Ibnu Abbas RA dan Imam As Syafi’i. Karena mereka menyajikan pendapat yang tidak saling bertentangan justru saling melengkapi.

Dan yang terpenting adalah dengan mentadabburi surat Al Baqarah ayat 155 ini, kita dapat memahami dengan penuh kesadaran dan keimanan bahwa segala kesusahan dan kesulitan yang kita kaum muslimin rasakan hari ini sejatinya memang merupakan bagian dari rencana Allah SWT. Kita tak perlu berputus asa dan terlalu larut dalam kesedihan mengalami salah satu dari kelima ujian tersebut.

Karena hal itu sejatinya adalah cara Allah SWT untuk menyeleksi siapa saja yang berhak meraih keridhaan dan surganya kelak. Dan untuk mencapainya kita hanya perlu bersabar dalam menghadapi ujian-ujian tersebut. Sebagaimana kalimat penutup dalam ayat tersebut: “dan berilah kabar gembira terhadap orang yang bersabar.”

Ya, kita hanya perlu bersabar. Bersabar untuk tidak menyalahkan Allah SWT serta bersabar untuk tetap istiqomah dalam menjalani ketaatan kepada Allah SWT.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)