Langsung ke konten utama

Tanda-Tanda Lailatul Qadar

Tanda-Tanda Lailatul Qadar
Jalinan Keluarga Dakwah - Tanda-Tanda Lailatul Qadar

Jawaban :

Malam lailatul qadar mempunyai tanda-tanda, diantaranya:

Pertama: Malam itu udaranya sedang, tidak terlalu  dingin dan tidak terlalu  panas. Dalilnya adalah sabda Rasulullah saw :

إني كنت أريت ليلة القدر ، ثم نسيتها ، وهي في العشر الأواخر من ليلتها ، وهي ليلة طلقة بلجة لا حارة و لا بارة

"Saya pernah diperlihatkan Lailatul Qadar, akan tetapi saya lupa, malam itu jatuh pada malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, suasana malam itu cerah dan indah, tidak panas dan tidak dingin." (Hadits shahih riwayat Ahmad ,Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban).

Kedua: Matahari pada pagi harinya terbit berwarna merah dan sinarnya tidak menyengat. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka'ab:

أخبرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم  أن الشمس تطلع من ذلك اليوم لا شعاع لها

"Rasulullah saw telah memberitahukan kita bahwa matahari terbit pada hari itu tidak bercahaya (sinarnya tidak menyengat)." (HR. Muslim).

Kalau kita tidak melihat tanda-tanda Lailatul Qadar, bukanlah berarti Lailatul Qadar itu tidak ada.

Kita harus berkeyakinan bahwa Lailatul Qadar itu pasti ada tiap tahun pada bulan Ramadhan sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah saw. Sedangkan jika kita tidak melihat tanda-tandanya bukan berarti Lailatul Qadar tidak ada. Barangkali karena penglihatan kita yang tidak jeli, ataupun karena Allah swt tidak memperlihatkan tanda-tanda tersebut  pada diri kita. Bisa saja Allah memperlihatkan tanda-tanda tersebut kepada sekelompok orang dan  menutupinya dari sekelompok yang lain, sebagaimana Allah memberikan taufik kepada seseorang untuk mendapatkan Lailatul Qadar dan tidak memberikan taufik-Nya kepada yang lain. Wallahu A'lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)