Langsung ke konten utama

Wahai Para Suami, Perhatikanlah!

Wahai Para Suami, Perhatikanlah!
Keluarga Dakwah - Nasehat bagi para lelaki, saya juga sampaikan kepada anak-anak saya;

Paling bagus mengikuti pola burung dalam mencari rizki. Setelah subuh kamu harus bergerak, jalan seperti burung. Nanti maghrib sudah di rumah. Ibu-ibu yang memiliki suami seperti ini, maka rumah tangganya akan bagus.

Mengapa ba’da subuh sampai maghrib?

Karena Allah memang jadikan siang untuk mencari nafkah. Sebagaimana firman Allah,

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

“Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’: 11)

Sedangkan malam untuk supaya ia tenang bersama anak dan isterinya. Allah Ta’ala berfirman,

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا

“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian.” (QS. An-Naba’: 10)

Maka dari itu biasakanlah makan malam bersama! Itu sepertinya sepele namun luar biasa. Jangan sampai ibu-ibu makannya sendirian, sedangkan suaminya makan di dapur.

Biasakanlah makan bersama, bersama suami, isteri, anak, sambil ngobrol. Kebersamaan itu luar biasa. Nanti para isteri akan merindukan saat-saat seperti itu.

Kebersamaan itu lah yang akan dirindukan. Apalagi jika nanti bisa ngaji bersama, subhanallah luar biasa itu…

Itu lah yang akan menjadikan tenteram rumah tangga.

Jangan sampai bersama-sama di tempat makan, namun masing-masing sibuk dengan hp-nya. Semua harus tahu diri, jika waktu makan masing-masing harus letakkan hp-nya!

Kebersamaan yang semacam ini lah yang sekarang telah hilang.

Oleh : KH. Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)