Langsung ke konten utama

Berapa Lama Madu Pernikahanmu

Berapa Lama Madu Pernikahanmu
Keluarga Dakwah - Berapa Lama Madu Pernikahanmu?

Saya menyalahkan seorang yang menikah, dan nikahnya diikat dengan bulan madu. Bulan madu kan hanya sebulan, untuk apa menikah jika madunya hanya sebulan? Seharusnya kita bisa merasakan bulan madu seumur hidup. 

Bulan madu itu asalnya dari mana? Itu bukan dari Islam. itu diambil dari kata Honey Moon.

Bulan madu itu bisa dilakukan kapan pun, termasuk mereka yang sudah berumur tua. Jika mau belajar dari saya, insya Allah.

Banyak hal yang kita tidak temukan di buku. kita sudah membaca puluhan bahkan mungkin ratusan buku tentang pernikahan keluarga, namun banyak yang tidak terungkap dalam buku. Dan itu semua dapat kita peroleh dari pengalaman. Indahnya pengalaman melebihi indahnya yang ada di buku.

Ada sesuatu yang berat bagi ibu-ibu padahal di situlah letak keindahan. Apa itu? Nasihat 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam kepada Fathimah az-Zahra’ tatkala hendak menikah, dan ini bisa menjadi nasihat setiap bapak untuk anaknya, yakni; “Wahai Fathimah, jangan pernah kamu meminta sesuatu apapun dari suamimu!”

Nasihat ini dipraktekkan Fathimah hingga beliau wafat. 
Pertanyaannya; adakah ibu-ibu yang tidak pernah minta kepada suaminya? 

Mengapa wanita sekarang berbeda? Karena dahulu sebelum menikah tidak pernah dinasihati oleh orang tuanya.

Wahai para ibu, psikologi bapak-bapak itu jika diminta, mereka hanya akan memberi sedikit, jika tidak diminta justeru memberi jumlah yang banyak.

Wanita harus terhormat, tidak boleh suka meminta-minta seperti itu. Itulah yang ditanamkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam kepada Fathimah az-Zahra’.

Semoga ini menjadi pelajaran bersama.

Oleh: KH. Farid Ahmad Okbah. MA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)