Langsung ke konten utama

Stempel Hati

Tips Rumah Tangga Bahagia
Keluarga Dakwah - Tips Rumah Tangga Bahagia

Ketika suami istri slaing menyambut dengan ramah, senyum, kecukupan, tutur kata manis, dan wangi saat pasangannya datang serta meninggalkan pekerjaan yang ada termasuk perkara penting untuk menghadirkan kebahagiaan rumah. Hendaknya masing-masing memperlihatkan bahwa pasangannya begitu mencintai, memuliakan, dan rindu kepadanya.

Sebagaimana pentingnya saat menyambut, maka penting pula saat melepas kepergian. Tatkala suami istri saling melepas kepergian dengan senyum, kecupan, dan mendoakan taufik saat keluar rumah, ini juga perlu untuk sangat diperhatikan. Anas rodhiyallaahu 'anhu berkata, ‘Rasulullaah bersabda kepadaku:

”Wahai nak, jika kamu menemui keluargamu maka ucapkanlah salam, niscaya keberkahan akan menyertaimu dan keluargamu.” (Shahih Al-Kalim Ath-Thayyib)

Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

”Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, meskipun kamu bertemu saudaramu dengan wajah berseri-seri.” (HR Muslim)

Aisyah rodhiyallaahu 'anha berkata,”Bahwasanya Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam mencium sebagian istrinya lalu keluar untuk shalat tanpa berwudhu lagi.” (HR Tirmidzi)

Aisyah juga berkata,”Dahulu aku memakaikan minyak wangi untuk Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam saat beliau ihram dan tahallul sebelum thawaf memutari Ka’bah.” (HR Bukhari). Hadits ini menunjukkan bahwa Aisyah pernah memakaikan minyak wangi untuk Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan tangannya sendiri saat beliau tahallul dan ihram. Beginilah seharusnya istri shalihah, dia harus memperhatikan perpisahan dan sembutan untuk suami saat tiba di rumah.

(Dirangkum dari 99 Tips Rumah Tangga Bahagia, Dr. Musyabbab bin Fahd Al-Ashimi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)