Langsung ke konten utama

Saat Pasangan (Suami/Istri) Dilanda Masalah

Keluarga Dakwah - Saat Pasangan (Suami/Istri) Dilanda Masalah

Laki-laki dan perempuan memiliki tabiat yang sangat berbeda dalam menghadapi sesuatu masalah. Biasanya laki-laki akan berpikir dalam kesendiriannya atau “pertapaanya”, sementara perempuan akan mengungkapkan atau membicarakan dengan orang yang dicintainya, dipercayainya atau dihormatinya.

Dengan perbedaan tabiat ini, maka suami atau istri harus berhenti ‘membantu’ pasangannya ketika dilanda masalah dengan caranya sendiri. Mereka harus mewaspadai dan mengetahui perbedaan tabiat dari dua jenis dan perbedaan cara berfikirnya antara laki-laki dan perempuan. Juga perasaan dan respon dari mereka yang berdua. Dengan ungkapan lain, ketika laki-laki diam atau masuk ke pertapaannya seharusnya perempuan tidak perlu takut, jangan kaget dan jangan membiarkan ketakutan masuk ke dalam pikiran. Perempuan harus memahami fenomena yang sudah menjadi kebiasaan laki-laki ini. Hendaknya ia membiarkan saja seperti itu dan pada saatnya laki-laki akan keluar sendiri dari pertapaan dan kembali pada keadaan yang biasanya.

Demikian juga ketika laki-laki melihat perempuan merasa kesal dan tidak tenang. Maka janganlah ia berhenti mengajak bicara. Laki-laki harus mengajak bicara dan mengetahui apa yang telah membuat ia kesal, kemudian memberikan pertolongan. Bila dia berhenti bicara maka ini akan menambah kekesalan perempuan.

Laki-laki harus mengajak bicara dan mengetahui apa yang telah membuat ia kesal, kemudian memberikan pertolongan. Bila dia berhenti bicara maka ini akan menambah kekesalan perempuan.

Ketika laki-laki diam maka perempuan harus membiarkan ia sendirian dan jangan berusaha menyeretnya untuk bicara. Ketika perempuan sedang marah dan kesal, maka laki-laki harus bicara dengannya dan jangan membiarkan ia sendirian. Karena ia sangat membutuhkan perhatiannya dan penjagaannya.

Sumber: Dikutip dan disarikan dari Buku Psikologi Suami Istri, karya DR. Thariq Kamal An-Nu’aini, terjemahan Muh. Muhaimin, M.Ag., penerbit Mitra Pustaka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)