Langsung ke konten utama

Asas pendidik dalam Keluarga

Keluarga Dakwah - Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah pedoman pendidikan dalam masyarakat muslim, serta pondasi untuk membangun setiap pemikiran dan keputusan. Oleh karena itu, hendaknya suami-istri berseangat mendidik pribadi dan anak-anak berlandaskan hal itu, serta menjadikannya sebagai pedoman dalam berinteraksi dan mengambil sikap. Ini semua perlu mempelajari Al-Qur’an, As-Sunnah, serta penjelasannya.

Diperbolehkan mengambil ilmu dari studi modern psikologi, edukasi, dan sosial yang dapat menyokong pendidikan. Masing-masing akan menemukan hasil positif dalam kehidupan keluarga baik di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telat menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab [33] : 36)

Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda:

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan dua hal untuk kalian, kalian tidak akan sesat setelahnya; kitabullah dan sunnahku. Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiku di telaga.” (Shahih Al-Jami’)

Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda:

“Berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena bid’ah itu sesat.” (Shahih Ibnu Majah)

Dalil-dalil diatas terdapat perintah dari Allah dan Rasul-Nya akan pentingnya konsisten terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam segala hal, termasuk pendidikan anak. Termasuk perkara yang perlu dikaji dan diambil pelajaran oleh orang tua, di antaranya adalah buku-buku islami yang konsentrasi masalah parenting, ditambah dengan ilmu-ilmu modern lainnya, seperti; psikologi perkembangan anak, psikologi pendidikan, ilmu sosial. Melalui itu semua kedua orang tua akan mengenal pedoman umum tata cara berinteraksi dengan anak secara ilmiyyah dan positif. Hal ini tidak bertentangan dengan agama, bahkan dapat mendukung pendidikan islami.

(Dirangkum dari 99 Tips Rumah Tangga Bahagia, Dr. Musyabbab bin Fahd Al-Ashimi)

JALINAN KELUARGA DAKWAH

  ════ ❁✿❁ ════

https://chat.whatsapp.com/8Qhp04CNHnM2FaAK1d8AHr

🌎Website: 
www.keluargadakwah.com 

📹 Youtube: JKD Channel 

📱 FB Keluarga Dakwah Jakarta

☎ CP : 021-29479346

💳 Rek Dakwah: BSM No. Rek. 711 342 4499 an  YAYASAN KELUARGA QQ INFAQ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)