Langsung ke konten utama

Bunga kehidupan - Tips Keluarga Bahagia


Keluarga Dakwah - Kelahiran anak termasuk perkara yang akan menguatkan keharmonisan suami-istri, yang secara tabiat mereka berhasrat untuk itu. Setelah kelahiran pertama, maka dianjurkan untuk mengatur jarak kelahiran, yakni berjarak tiga hingga empat tahun. Hal ini disesuaikan dengan kondisi kesehatan istri, serta kemampuannya untuk mendidik dan mengandung anak.

Cara ini akan membantu pendidikan anak dan meringankan beban istri, supaya ia dapat lebih fokus mengurus suami, rumah, dan diri sendiri. Suami-istri harus tetap menghindari membatasi kelahiran (KB) dengan satu atau dua anak. Allah Ta’ala berfirman:

“kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendakin dan memberikan anak-anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugrahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Asy-Syura [42] : 49-50)

Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda:

“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur.” (Hadist shahih, Musnad Ahmad)

Dibolehkan mengatur jarak kehamilan atau menghentikan hingga beberapa waktu, jika dibutuhkan dengan alasan yang dibenarkan secara syar’i. Hal ini disesuaikan musyawarah suami-istri dan berdasarkan kerelaan keduanya selama tidak mengakibatkan madharat. Tata cara juga harus sesuai syar’i, dan bukan karena membenci kehamilan. (Fatwa komisi Fikih Internasional) (www.islamqa.info)

Selama masa itu, hendaknya ibu serius memperhatikan persusuan, agar ibu tidak hanya memberikan susu formula. Ibu harus menyusui anak dengan penuh cinta, lembuh, tenang, dan aman. Terkadang pasangan suami-istri tidak dikaruniai anak, maka dalam kondisi seperti ini harus mengerjakan sebab yang dapat membantu lahirnya keturunan, seperti; banyak beristighfar dan doa, berbekam, ruqyah mandiri, dan bersedekah. Jika belum membuahkan hasil, maka perlu mencari terapi dari pada dokter sebagai solusi akhir, dan tidak boleh terbalik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)