Langsung ke konten utama

Konsentrasi positif Dalam Keluarga

Keluarga Dakwah - Konsentrasi memenuhi hak-hak keluarga serta keberadaan suami-istri di rumah tanpa keluar kecuali kerena kebutuhan terutama jika keduanya bekerja termasuk perkara yang dapat melanggengkan dan menyatukan anggota keluarga. Masing-masing dar suami-istri membutuhkan pasangannya, sedang anak-anak membutuhkan keduanya.

Supaya keberadaan di rumah bernilai positif dan manfaat, hendaknya suami-istri konsentrasi untuk istri dan anak-anak. Begitu pula dengan istri, hendaknya ia mencari tahu apa saja yang dibutuhkan suami dan anak-anaknya. Jangan sampai masalah-masalah tidak penting membuat sibuk lalu melalaikan hak pasangan dan anak-anak, seperti; telpon, internet, chanel TV, android, teman dan lainnya.

Dr. Abdul Karim Bakkar berkata, “Peran suami tidak sebatas bekerja dari pagi hingga sore, atau keluar rumah untuk mencari nafkah keluarga. Begitu pula dengan istri, perannya tidak sebatas merapikan rumah, mencuci baju, menyiapkan makanan. Ini semua tugas mulia yang diperankan orang  tua, namun jangan sampai menghabiskan seluruh waktu mereka. Karena itu hanyalah komponen kecil jika dibandingkan rumah bersuasana pendidikan. “ (www.islammemo.cc)

Keberadaan seorang ayah di tengah-tengah anaknya akan membentuk keluarga sehat, dan itu mencirikannya sebagai kepala rumah tangga yang bertanggung jawab, ideal, dan stabil. Dia juga dapat menjaga ketertiban intern rumah, serta melengkapi peran ibu yang berpotensi memberikan kasih sayang dan kelembutan. (www.islamemo.cc). 

Seorang peyair berkata :
Anak yatim bukanlah yang ditinggal mati orang tuanya
Lalu ditinggalkan dalam kondisi hidup sengsara
Yatim sebenarnya adalah
Yang mendapati ibunya menghindar atau ayahnya sibuk.

(Dirangkum dari 99 Tips Rumah Tangga Bahagia, Dr. Musyabbab bin Fahd Al-Ashimi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)