Langsung ke konten utama

Mereka adalah Kita


Keluarga Dakwah -  Pernahkah kita luangkan waktu bersama pasangan kita hanya untuk memperhatikan tingkah laku anak-anak kita?

Bukan, bukan untuk mencari kesalahan mereka. Pun bukan untuk menemukan kehebatan mereka. Hanya memperhatikan detail tingkah laku mereka.

Lihatlah senyum mereka, senyum siapakah itu? Senyum ayah? Atau senyum bunda?
Lihatlah cara mereka bicara, mirip siapa?
Lihatlah cara mereka mengerutkan dahi ketika berpikir? Seperti siapa?
Lihatlah cara mereka berjalan, adakah itu cara berjalan kita?
Lihatlah cara mereka menggerakkan kepalanya ketika menengok, cara siapa?
Lihatlah cara mereka tertawa, mirip siapa?
Bahkan lihatlah ketika mereka marah, marah siapa yang ditiru mereka?

Ah, ternyata mereka itu kita.

Maka pantaskah kita kemudian mendidik mereka tanpa memulai perubahan dari diri kita sendiri lebih dahulu?

Simaklah ayat berikut ini:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Al Furqon: 74)

Ustadz Budi Ashari, Lc dalam bukunya, Inspirasi dari Rumah Cahaya menjelaskan tadabur ayat ini sebagai bekal bagi visi keluarga kita. Mendahulukan pasangan kemudian baru melanjutkannya dengan menyebutkan keturunan.

Setiap kita berharap besar untuk melahirkan keturunan yang menyejukkan pandangan mata. Dan itu baru akan terjadi saat telah terajut dengan baik pasangan yang menyejukkan mata.

Akan sangat sulit melahirkan keturunan istimewa saat carut marut rajutan antar pasangan terjadi. Justru kegundahan demi kegundahan melahirkan awan hitam yang bergelayut di langit rumah tangga.
Bagaimana menghasilkan anak yang tersenyum, bila orang tuanya tak pernah menyontohkan bagaimana itu tersenyum?
Bagaimana menghasilkan anak yang pemaaf, bila orang tua nya pendendam dan sulit memaafkan?
Bagaimana menghasilkan anak yang taat beribadah, ketika orang tuanya tak menunjukkan ketaatannya kepada Rabb-nya dalam kesehariannya?
Bagaimana bisa kita hanya sibuk memikirkan hukuman bagi mereka, sementara kita tak sibuk bermuhasabah diri.
Bagaimana kita terus memerintah mereka melakukan ini dan itu, sementara kita hanya duduk manis ingin menikmati hasil dari mereka.
Bagaimana kita ingin mereka menyesal ketika melakukan kesalahan, ketika kita bahkan tak pernah meminta maaf ketika melakukan kesalahan kepada mereka.

Karena mereka adalah kita.

Sering kita tidak sadar sedang digiring oleh syaithan untuk membuang agama kita dalam mendidik anak-anak kita.
Kita disibukkan dengan sekadar memikirkan program-program pendidikan bagi anak-anak kita tanpa membuat program perubahan bagi diri sendiri.
Padahal bicara anak adalah bicara tentang orang tua.

Karena mereka adalah kita.

Betapa sering kita memarahi dan menghukum mereka di luar batas.
Tanpa menyadari bahwa kesalahan mereka sebenarnya adalah kesalahan kita.

Karena mereka adalah kita.

Minta maaflah…
Minta maaflah atas kesalahan dalam mendidik mereka.
Minta maaflah atas kekurangan kita dalam mencontohkan yang baik dari diri kita.
Minta maaflah atas keterlambatan kita dalam berilmu,
hingga kita kibarkan bendera putih karena kini kita yang jauh di belakang mereka.

Mulia bagi orang tua yang mampu meminta maaf pada anak-anak mereka.
Bahkan juga mulia di hati anak-anak mereka.
Sungguh tak pernah hina orang yang meminta maaf.

Kini saatnya kita ber-azzam. Berniat dengan sungguh-sungguh.
Berubah, mendekatkan diri kepada Allah, menjadi manusia yang jauh lebih baik sesuai tuntunan agama kita.
Mengejar ketertinggalan kita, tak melulu  disibukkan dengan remeh temeh dunia lainnya.
Mendidik anak, adalah mendidik diri sendiri terlebih dahulu.

Karena mereka adalah kita.
*Terinspirasi dari kajian Petunjuk Islam dalam Mendidik Anak, Ustadz Budi Ashari, Lc.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)