Langsung ke konten utama

Keluarga Idaman dalam Perspektif Al-Quran


Keluarga Dakwah - Telah disebutkan dalam al Quran, di antara hikmah disyari’atkannya berkeluarga adalah demi menggapai ketenangan jiwa serta menghiasi kehidupan dengan warna kasih sayang dan cinta. Allah ta’ala telah berfirman :

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya adalah diciptakan-Nya bagi kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri agar kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau berfikir”. (QS. Ar Rum: 21)

            Dari ayat tersebut, bisa diambil sebuah ibrah ataupun pelajaran bahwa perintah Allah ta’ala kepada manusia untuk menikah  memiliki tujuan menggapai tiga unsur kemaslahatan (kebaikan) yang diebutkan dalam ayat tersebut. Ketiga unsur kemaslahatan itu adalah sakinah, mawaddah dan rohmah. Dengan kata lain, terbentuknya keluarga idaman manakala terwujudnya tiga unsur kemaslahatan tersebut. Ketika tiga unsur itu ada maka itulah potret keluarga idaman.

            Untuk itulah perlunya penggalian makna ketiga unsur tersebut :

1. Sakinah; secara etimologi adalah ketenangan dan kemantapan.

2. Mawaddah, secara etimologi bermakna kecintaan dan pengharapan.

3. Rohmah, secara bahasa memiliki makna kelembutan, kasih sayang, kebaikan dan kenikmatan.

Imam Ibnu katsir menuturkan dalam tafsirnya, “Merupakan bagian dari rohmat Allah untuk bani Adam diciptakan-Nya pasangan-pasangan mereka  dari jenis mereka (bukan dari jenis jin atau selain manusia) dan telah menjadikan di antara mereka mawaddah yaitu rasa cinta dan rohmah yaitu kasih sayang (ro’fah), sesungguhnya seorang laki-laki menjaga istrinya dikarenakan kecintaannya kepadanya atau kasih sayangnya untuknya disebabkan dirinya memiliki keturunan darinya atau kebutuhan istri terhadap nafkah dan kelembutan di antara keduanya”. (Tafsir Al Quran Al Adzim, Imam Ibnu Katsir: 3/414)

           Dengan memahami tujuan berkeluarga tersebut, pasangan suami-istri hendaknya berupaya semaksimal mungkin untuk mewujudkan ketiga rasa itu. Tentunya perlu disadari bersama bahwa hidup di dunia fana ini tak lepas dari permasalahan-permasalahan yang dengannya Allah menguji kita apakah kita termasuk yang bersyukur dan sabar ataukah termasuk orang kufur. Namun betapapun besarnya ujian yang menerpa kehidupan keluarga hendaknya tetaplah berupaya menghadirkan ketiga rasa itu sebagai solusi.

           Tidak layak bagi pasangan suami-istri mukmin-mukminah berpaling dari ketauladanan sumi-istri ideal yaitu Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam beserta para istri-istri beliau kemudian mengambil sosok-sosok pasangan suami-istri zaman kini yang dipenuhi kemaksiatan sebagai contoh ataupun dijadikan figure. Cukuplah bagi kita ketauladanan yang ditampakkan dari pribadi luhur dan insan pilahan Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam beserta istri-istri beliu dan juga para murid sekaligus para sahabat beliau. Tengoklah ketegaran beliau  shallahu ‘alaihi wasallam tatkala menghadapi ujian dalam peristiwa “haditsatul ifki” yaitu tuduhan dari kaum munafikin bahwa istri beliau ‘Aisyah  radhiyallahu ‘anha berlaku serong. Sungguh ini adalah tuduhan yang keji dan tak pelak membuat semua penduduk Madinah gempar serta hati Rosululloh pun bersedih. Namun apakah serta merta Rosululloh mencampakkan dan berlaku kasar terhadap istrinya? Tidak, sekali-kali tidak. Denga ketabahan dan kesabaran yang dimiliki, beliau berupaya untuk menjaga agar jalinan renda kemesraan dan kasih sayang tetap terajut. Hal itu terbukti dengan sapaan beliau kepada ‘Aisyah; “kaifa tiikum? (bagaimana kabarmu?) setiap kali mengunjungi beliau.

           Dari uraian tersebut, bisa diambil sebuah kesimpulan sederhana bahwa terwujudnya ketiga unsur kebaikan dalam pernikahan dan keluarga adalah dengan adanya tiga pilar pendukung yang hakikatnya adalah sebuah anggota komponen kelurga itu sendiri; yaitu suami yang sekaligus menjadi ayah bagi anaknya, istri yang sekaligus ibu bagi anaknya dan anak yang menjadi buah hati dan penyejuk jiwa bagi kedua orang tuanya. Dalam hal ini, kesholihan dari masing-masing anggota keluarga menjadi penentu dan factor utama terwujudnya keluarga sakinah, mawaddah dan rohmah. Wallahu 'alam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)