Langsung ke konten utama

Berhias untuk suami yang dibolehkan

 


Keluarga Dakwah - Assyaikh Al-Allamah Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah,

"Dianjurkan bagi seorang wanita untuk berhias dihadapan suaminya, karena hal ini termasuk dari sebab kecintaannya, dan kecondongan hatinya padanya. 

Berhiasnya istri dihadapan suami termasuk dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala: 

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

"Pergaulilah mereka dengan cara yang baik". (An-Nisa :19)

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang ma’ruf.”

(Al-Baqarah: 228)

Wajib baginya berhias untuk suaminya, menggunakan wewangian, segala sesuatu yang akan menimbulkan kecintaannya, 

Ini adalah sunnah yang semestinya ditunaikan seorang istri.

Namun tidak menggunakan sesuatu yang Allah haramkan.

Wajib baginya untuk menggunakan sesuatu yang Allah bolehkan berupa wewangian, pakaian dan yang semisalnya.

Adapun perbuatan yang Allah haramkan, maka jangan dilakukan seperti,

- Mencukur alis, tidak dibolehkan meskipun permintaan suami.

- Atau seperti menyemir uban dengan warna hitam, apabila dia sudah tua dan padanya terdapat uban, tidak boleh baginya untuk disemir dengan warna hitam.

Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa salam,

غيروا هذا الشيب واجتنبوا السواد 

"Semirlah uban ini dan jauhilah warna hitam."

Adapun menyemir ubannya dengan warna merah, kuning, atau antara hitam dan merah, maka tidak mengapa.

Dianjurkan baginya untuk berhias dihadapan suaminya dengan mengenakan pakaian yang indah, warna kuning, merah, hijau, atau putih, namun bukan dengan model yang menyerupai laki-laki, tidak dibolehkan menyerupai laki-laki.

Didalam hadits yang shahih, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda: 

لعن الله المرأة تلبس لبسة الرجل 

"Allah melaknat seorang wanita yang memakai pakaian laki-laki"

Tidak dibolehkan baginya untuk menyerupai laki-laki, baik dalam berpakaian atau yang lainnya. (AsySyamil / Keluarga Dakwah) 

Wallahu a'lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)