Langsung ke konten utama

Maksiat Sebagai Pembatal Amal


Keluarga Dakwah - Para ulama telah sepakat bahwa maksiat tidak bisa membatalkan amal baik. Dan mereka telah bersepakat bahwa hanya kekufuran dan kesyirikan yang bisa membatalkan amalan seseorang. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ibnu Taimiyah,

ولا يحبط الأعمال غير الكفر ؛ لأن من مات على الإيمان فإنه لا بد أن يدخل الجنة ، ويخرج من النار إن دخلها ، ولو حبط عمله كله لم يدخل الجنة قط ، ولأن الأعمال إنما يحبطها ما ينافيها ، ولا ينافي الأعمال مطلقًا إلا الكفر ، وهذا معروف من أصول السنة.

Artinya: “Tidak ada yang bisa menghapus amalan-amalan kebaikan kecuali kekufuran. Setiap orang yang beriman kemudian meninggal dunia, maka konsekuensi dari keimanannya adalah ia dipastikan masuk ke dalam surga, walaupun dia dimasukkan terlebih dahulu ke dalam neraka. Karena sesungguhnya amal hanya bisa dibatalkan dengan sesuatu yang menafikan amal tersebut. Dan tidak ada yang menafikan amal secara mutlak kecuali kekufuran. Dan pendapat ini adalah bagian dari pokok-pokok as-sunnah.” (Ash-Sharim Al-Maslul, hal. 55)

Walaupun tidak membatalkan amalan yang dikerjakan, akan tetapi maksiat dapat merusak kualitas dari amalan tersebut. Hal ini sebagaimana yang difatwakan oleh Syaikh bin Bazz ketika seseorang bertanya apakah marahnya dan perbuatan buruknya yang lain dapat membatalkan amalan yang telah dia kerjakan. Maka Syaikh bin Bazz menjawab,

“Jika engkau terjatuh didalam kemaksiatan dan kesalahan, maka yang wajib dilakukan adalah bertaubat kepada Allah Ta’ala dan mawas diri dari mengulangi perbuatan tersebut. Sedangkan amalanmu tetap pada jalurnya (diterima), alhamdulillah! Sesungguhnya yang dapat membatalkan sebuah amalan hanyalah perbuatan kufur. Sedangkan maksiat tidak membuat amalan tersebut menjadi batal, hanya saja maksiat akan sangat membahayakan konsistensi amalan yang dikerjakan.”  (Majmu’ Fatawa, Syaikh Bin Bazz)

Wallahu ta’ala a’lam


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)