Langsung ke konten utama

Nasehat untuk Pasutri


Keluarga Dakwah - Asy Syaikh Muqbil Bin Hadi Rahimahullah mengatakan, “Kebahagiaan antara suami istri tidak akan terwujud kecuali dengan saling bersabarnya mereka berdua terhadap keluarganya yang lain, saling tolong menolong mereka dalam kebaikan, serta dalam mendidik anak-anak mereka” (Anaqidul Karamah, halaman 77).

Sungguh petuah penuh hikmah agar pasutri mampu menikmati sensasi kebahagiaan sejati yang dikaruniakan Allah azza wa jalla untuk mereka yang merindukan surga. Bersabar menghadapi kekurangan pasangan dengan penuh ketulusan agar semuanya berpahala dan bernilai ibadah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berwasiat,

لَايَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةٌ إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا اَخَرَ

“Janganlah seseorang membenci pasangannya ‘jika ia benci kepada salah satu sikap istrinya, pasti dalam hal lain ia akan rela” (HR. Muslim no 149).

Poin Kedua yang dinasehatkan Asy Syaikh Muqbil bin Hadi yakni pentingnya pasutri saling tolong menolong dalam kebaikan. Pernikahan merupakan gerbang untuk beramal shalih bagi suami istri. Saling menguatkannya untuk tetap dalam koridor ketakwaan pada Allah Azza wa Jalla. Dengan kata lain, hendaknya mengusahakan agar pasutri menjadi mukmin yang shalih dan shalihah di sisi Allah Azza wa Jalla, bertauhid yang lurus sebagaimana perintah Islam, beramal ikhlas dan meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Diriwayatkan dari Umar radhiallahu’anhu, dia berkata, “Sangat sedikit rumah tangga yang dibangun di atas cinta. Namun kebanyakan manusia bergaul (menikahi) pasangannya dengan dasar Islam, menyambung nasab ataupun untuk berbuat ihsan”. Kebahagiaan akan terwujud tatkala pasutri saling berbuat kebaikan kepada pasangannya, menunaikan hak-hak pasangan dengan cara yang makruf.

Poin selanjutnya dari wasiat Asy Syaikh adalah kekompakkan pasutri untk mendidik anak-anaknya dengan berlandaskan syariat. Mengasuh, membimbing dan mendidik anak adalah amanah dari Allah Azza wa Jalla untuk kedua orang tua yang harus ditunaikan sebaik-baiknya.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat” (QS. An-Nisa’: 58).

Semoga Allah memberkati keluarga kita, menjadikan menjadikan kebersamaan kita tak hanya di dunia namun hingga surga-Nya. Aamiin.

Sumber : Majalah As-Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)