Langsung ke konten utama

Harga Mati Calon Pasangan Adalah Keshalihan

Harga Mati Calon Pasangan Adalah Keshalihan
Keluarga Dakwah - Harga Mati Calon Pasangan Adalah Keshalihan

Kita tahu, atau minimal pernah mendengar, bahwa manusia diciptakan Allah hanya untuk mengabdi kepada-Nya. Hanya itu, dan bukan yang lain. Sehingga kesuksesan kita sebagai manusia sejatinya ditentukan oleh kemampuan kita merealisasikan makna pengabdian kepada Allah di setiap situasi dan kondisi yang kita temui. Menetapi perintah Allah dengan mengerjakannya, dan larangan Allah dengan cara menjauhinya. Dan itu akan berlangsung terus berlanjut hingga kematian datang menjemput.

Meski secara konsep tampak sederhana, pengabdian kepada Allah sangatlah sulit di level aplikasi teknisnya. Bisa dari sisi materi perintah dan larangan yang kebanyakan tidak sejalan dengan keinginan hawa nafsu kita sebagai manusia, dimana perintah Allah seringkali berada di wilayah yang tidak kita suka, atau larangan-Nya justru berada di area kesukaan kita. Ada semangat yang harus kita jaga, juga kesenangan yang harus kita tahan.

Bisa juga dari sisi bahwa qalbu sebagai tempat kita mengambil keputusan dan kekuatan yang seringkali tidak stabil kondisinya. Ia disebut qalbu karena yataqallabu atau mudah bergejolak. Mudah berubah pikiran dan berganti pandangan, sehingga penjagaan akan keistiqamahannya sangatlah sulit dan rumit. Selain juga kesuciannya harus dirawat dan dijaga sebab ialah hal utama yang menjadikan baik buruknya manusia.

Atau dari sisi bahwa zaman dimana kita sekarang di dalamnya sangatlah tidak kondusif bagi para penyeru dan pelaku kebaikan. Zaman fitnah saat agama tergadaikan demi kenikmatan dunia. Ada juga setan yang tidak akan lelah menggoda dan memperdaya. Saat keistiqamahan menjadi sangat sulit sebab kesulitan hidup yang menghimpit. Sehingga orang-orang yang sabar memegang teguh agama serupa penggenggam bara api.

Dalam hal ini, Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Kalaulah tidak tersisa dari umurku kecuali sepuluh hari dan aku tahu akan mati di hari terakhirnya, namun aku masih sempat untuk menikah meski hanya satu hari, niscaya aku akan menikah untuk menghindari fitnah.”

Dari sinilah pernikahan mengambil peran pentingnya. Melengkapi kekurangan diri, menemani saat sendiri, memotivasi ketika terpuruk, memiliki keturunan, berbincang saat senggang, hingga menguatkan nilai-nilai ibadah. Pernikahan memiliki nilai sangat strategis sebagi benteng pertahanan dari berbagai fitnah dunia dan agama, baik dari sisi seksual, finansial, sosial, moral, hingga aktualisasi diri. Hingga Rasulullah menyebutnya sebagai separuh agama, dan istri shalihah sebagai sebaik-baik perhiasan dunia. Bahkan saat menjawab pertanyaan para shahabat tentang sebaik-baik harta di dunia, salah satunya, Beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Salam berkata, “Istri mukminah yang membantu agama suaminya.”

Hal ini menunjukkan peran penting keshalihan pasangan bagi pemaknaan ibadah kepada Allah dalam sebuah pernikahan, bukan sekedar berbeda jenis kelamin, dimana Rasulullah menyebutnya sebagai terbaik setelah takwa kepada Allah. Sebagaimana hadits berikut, “Tidak ada sesuatu yang bermanfaat bagi seorang mukmin setelah takwa kepada Allah selain istri yang shalihah.” HR. Ibnu Majah.

Namun, semua konsep pembangunan keluarga sakinah ini akan gagal total direalisasikan jika kita memilih pasangan yang salah. Merasa pintar dan tidak membutuhkan arahan Rasulullah dalam menentukan kriteria pasangan yang diinginkan. Bermain-main dengan nafsu dan sejumlah kepentingan dunia sebagai motif, meninggalkan substansi kebaikan seseorang, keshalihan dirinya.

Baca juga:


Padahal Rasulullah menunjukkan penyebab datangnya keberuntungan dalam pernikahan adalah faktor agama atau keshalihan calon istri. Juga datangnya fitnah dan kerusakan yang besar jika memilih suami bukan karena keridhaan akan agama dan akhlaknya. Informasi penting yang seringkali diabaikan, bahkan diremehkan.

Padahal, keshalihan pasangan adalah harga mati dalam sebuah pernikahan yang baik. Ialah yang menyebabkan pembicaraan di antara suami istri menjadi terarah. Tidak bias dan salah. Bahu membahu memaknai hari demi hari yang dilalui dalam ketaatan kepada Allah. Saling menguatkan di saat kesempitan dan kesulitan mendera, saling berbagi di saat kelapangan dan kemudahan ditemui. Mewujudkan konsep tolong menolong dalam kebaikan dan takwa pada skala paling kecil, keluarga.

Al-Imam Abu Bakr Ibnul ‘Araby al-Maliky rahimahullah dalam kitab Ahkamul Qur’an berkata, “Jika seorang laki-laki tidak memiliki istri yang shalihah, maka sungguh urusannya tidak akan bisa lurus bersamanya, kecuali dengan perginya sebagian urusan agamanya.”

Karena pembicaraan tentang baik dan buruk, benar dan salah, halal dan haram nyaris tidak pernah dilakukan atas nama menjaga keutuhan keluarga. Setiap kali berbicara tentang hal itu, yang muncul hanyalah perselisihan dan pertengkaran. Maka agar tidak terjadi ‘kekacauan’ dalam keluarga, caranya dengan tidak membicarakan hal-hal berbau agama. Dan itu bermakna perginya ajaran agama dari keluarga mereka.

Jika ini yang terjadi, pernikahan yang ada hanyalah wilayah kita memuaskan diri dengan kesenangan dunia dan tidak memiliki visi akhirat. Langkah berat dan payahnya!

(majalah ar risalah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)