Langsung ke konten utama

Kitab-kitab Tafsir Tersohor

Kitab-kitab Tafsir Tersohor
Kitab-kitab tafsir tersohor:

a) Tafsir Ibnu Abbas

b) Tafsir Ibnu Uyainah

c) Tafsir Abu Syaih bin hibban

d) Tafsir Ibnu Atiyah

e) Tafsir Abu Lais As-Samarqandi (bahrul ulum)

f) Tafsir Abu Ishaq ((al-Kasfu wal bayan an tafsiril qur’an)

g) Tafsir Ibnu jarir at-Tahbari (jamiul bayan fie tafsiril qur’an)

h) Tafsir Ibnu Abi Syaibah

i) Tafsir Al-Baaghawi (ma’alimul tanzil)

j) Tafsir Abil fida’ Al-Hafidz Ibnu katsir (tafsir qur’an adzim)

k) Tafsir As-Sya’labi (al-Jawahirul hisan fi tafsiril qur’an)

l) Tafsir Jalaluddin asy-Syuyuti ( ad-Durrul mansur fi tafsiril bil mantsur)

m) Tafsir Asy-Syaukani (fathul qadir)



Kitab tafsir bil ra’yi

a) Tafsir Abdurrahman bin Kisan Al-aslam.

b) Tafsir Abu Ali Al-Juba’i.

c) Tafsir Abdul Jabbar.

d) Tafsir Az-Zamakhsyari.

e) Tafsir Fakhruddin Ar-Razi (mafatihul ghaib).

f) Tafsir Ibnu Furaq.

g) Tafsir An-nasafi (madarikut tanzil wa haqa’iqut ta’wil).

h) Tafsir Al-Khazin (lubabut ta;wil fi ma’ani tanzil).

i) Tafsir Abu Hayyan (al-Bahrul muhid).

j) Tafsir Al-Baidhawi (anwarul tanzil wa asrarut takwil).

k) Tafsir Al-Qurtubi (al-jami li ahkamil qur’an).

l) Tafsir Abus su’ud (irsyadul aqlis salim ila mazayal kitabil karim).

m) Tafsir Al-Alusi (ruhul ma’ani fi tafsiril qur’anil adzim was sab’ii matsni).



Kitab-kitab yang terkenal di abad modern:

1. Al Jawahir fi tafsiril Qur’an, oleh syaikh At Thantawi Jauhari.

2. Tafsir Al Manar, oleh Sayid Muhamad Rasid Ridha.

3. Fi zilalil Qur’an.

4. Tafsir al bayani lil Qur’anil karim, oleh a’isyah Abdurrahman binti Asy syati’.



Tafsir Fuqaha

1. Ahkamul qur’an oleh al jasas

2. Ahkamul qur’an oleh al kaya al haris (manuskrip)

3. Ahkamul qur’an oleh ibnu a’rabi

4. Al jamil li ahkamil qur’an

5. Al iklil fi istinbati tanzil oleh al qurtubi

6. At tafsiraratul ahmadiyah fi bayanil ayatisi syariyah oleh maula geon

7. Tafsiru ayatil ahkam oleh syaikh mana al aqathan

8. Adwul bayan, oleh syaikh muhammad asy syanqiti

Sumber: Diringkas oleh tim redaksi alislamu.com dari Manna’ Al-Qaththan, Mabaahits fie ‘Uluumil Qur’aan, atau Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, terj. H. Aunur Rafiq El-Mazni, Lc. MA (Pustaka Al-Kautsar), hlm 449 – 486.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)