Langsung ke konten utama

Istri Mengungkit-ungkit Pemberian Kepada Suami

Istri Mengungkit-ungkit Pemberian Kepada Suami
Keluarga Dakwah - Isteri Mengungkit-ungkit Apa yang Pernah Ia Berikan dari Hartanya untuk Suami Maupun Keluarga

Mengungkit-ungkit adalah sikap tercela. Seharusnya istri menjauhkan diri darinya. Bila mengungkit-ungkit itu adalah perangai yang tidak baik dilakukan oleh siapapun, maka tidak baik lagi bila itu dilakukan oleh seorang istri terhadap suaminya. Sikap mengungkit-ungkit akan menghancurkan amal kebaikan dan menjatuhkan harga diri. Allah azza wajalla melarang sikap mengungkit-ungkit di dalam firman-Nya,

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوالَاتُبْطِلُواصَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّوَالْأَذَى [البقرة :٢٦٤]

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan sedekahmu dengan menyebut-menyebutnya dan menyakiti (si penerimanya)…" (Qs. Al-Baqarah : 264)

Diriwayatkan dari Abu Dzar –semoga Allah meridhainya-, dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ » قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

“Ada tiga orang yang mana pada hari Kiamat Allah tidak berbicara dengan mereka, tidak melihat mereka dan tidak mensucikan mereka, serta bagi mereka adzab yang pedih, ‘Perowi berkata, ‘Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- mengulanginya sebanyak tiga kali. ‘ Abu Dzar berkata, mereka merugi, siapakah mereka itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab,’orang yang memanjangkan ujung pakaiannya (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian, dan orang yang memberikan barangnya dengan sumpah palsu. (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 106)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas-semoga Allah meridhainya, ia berkata, ”Suatu perkara ma’ruf tidak menjadi sempurna kecuali dengan tiga hal; yakni, dengan menyegerakan pelaksanaannya, menganggapnya kecil, dan menutup-nutupinya. Bila seseorang menyegerakannya, maka akan melegakan hatinya. Bila ia menganggapnya kecil, maka akan menjadi besar. Dan bila ia menutup-nutupinya, maka akan menjadi sempurnya" (‘Uyun al-Akhbar, IV : 177)

Seorang berwasiat menasehati anak-anaknya, ”Bila kalian memberikan sesuatu kepada orang lain, maka lupakanlah pemberian itu”. (‘Uyun al-Akhbar, IV : 177)


Dengan Menyebut-nyebut Rusaklah Kebaikan yang Ditanam

Mengungkit-ungkit bukanlah perangai seorang mulia (‘Uyun al-Akhbar, IV : 177)

Imam Syafi’i berkata :

"Menyebut-nyebut pemberian bagi hati
Lebih perih ketimbang tusukan belati" (Diwan asy-Syafi’i, hal. 135)

Al-Barudi mengutarakan :

"Aku tanggung segenap bencana demi menghindari sikap mengungkit-ungkit
Menanggung bencana sepanjang masa lebih ringan dari pada mengungkit-ungkit" (Diwan al-Barudi, hal. 549)

Meskipun mengungkit-ungkit dan menghitung-hitung kebaikan bukan akhlak seorang yang mulia, namun sikap tersebut bisa ditolerir pada saat mengajukan kritik dan mengemukakan alasan. Ibnu Hazm berkata, “ Ada dua kondisi yang di dalamnya menjadi baik apa yang buruk dilakukan pada selain keduanya, yaitu ketika mengajukan kritik dan mengemukakan alasan. Pada keduanya tidak masalah untuk menghitung-hitung pemberian dan menyebut-nyebut kebaikan, padahal tindakan ini sangatlah buruk dilakukan pada selain dua kondisi tersebut (al-Akhlaq Wa as-Siyar, hal. 78)

Karena itu, bila istri hendak mengkritik atau mengemukakan alasan kepada suami diperbolehkan baginya untuk menyebutkan sebagian kebaikan. Bukan untuk tujuan mengungkit-ungkit dan melecehkan, tetapi sekedar mengingatkan suami betapa ia sangat menghormati dan menghargainya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)