Langsung ke konten utama

Seimbang antara Hak dan Kewajiban

Seimbang antara Hak dan Kewajiban
Keluarga Dakwah - Salah satu ciri keluarga Bahagia adalah Seimbang antara Hak dan Kewajiban. Hak dan kewajiban adalah perkara yang wajib diperhatikan dan dipenuhi oleh pasangan suami istri, supaya keduanya hidup damai dan saling memahami. Karena itulah, hal ini memerlukan pembahasan dan observasi baik dari buku maupun internet, serta menanyakannya kepada para pakar tentang hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga, baik secara personal, sosial, maupun syar’i.

Berdasarkan riset kasus perceraian terbukti bahwa tidak mengerti hak dan kewajiban adalah faktor terbesar problematika suami-istri. Masalah ini dapat terurai dengan mempelajari, manmbah wawasan, dan bertanya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf." (Al-Baqarah: 228)

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,

“Ingatlah! Kalian memiliki hak atas istri-istri kalian, dan istri kalian memiliki hak atas kalian. Adapun hak kalian atas mereka; mereka tidak memasukkan ke ranjang mereka siapa saja yang kalian benci, dan tidak mengizinkan siapa yang kalian benci untuk masuk rumah. Adapun hak mereka atas kalian; kalian berbuat baik dengan memberi makan dan pakaian kepada mereka.” (HR At-Tirmidzi)

Mu’awiyah bin Haidah bertanya,”Wahai Rasulullah, apa hak istri-istri kami atas kami?” Beliau menjawab:

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلاَ تَضْرِبِ الوَجْهَ، وَلاَ تُقَبِّحْ، وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ.

“Engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, janganlah memukul wajah dan janganlah menjelek-jelekkannya serta janganlah memisahkannya kecuali tetap dalam rumah.” (HR. Ibnu Majah, Abu Dawud, Ibnu Majah)

Maksud dari “jangan cerca” yaitu tidak mengatakan,”Semoga Allah memburukkanmu!” Sebagian suami memenuhi hak istri secara materi, bahkan melebihkannya. Namun, ia kurang memperhatikan perasaan istri, hanya karena alasan banyak kerja dan sibuk. Begitu pula sebagian istri mengerjakan pekerjaan rumah secara sempurna. Namun, ia juga kurang memperhatikan perasaan suami, terutama saat anak-anak mulai banyak dan umur semakin bertambah. Cacat seperti ini selamanya tidak bisa diterima, baik dari pihak suami maupun istri. Karena akanmenumbulkan dampak kehidupan rumah tangga, dan berujung pula pada masyarakat.

(Dirangkum dari 99 Tips Rumah Tangga Bahagia, Dr. Musyabbab bin Fahd Al-Ashimi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)