Langsung ke konten utama

Ayah Ibu Lebih Mencintai Salah Seorang Anak

Ayah Ibu Lebih Mencintai Salah Seorang Anak
Keluarga Dakwah - Kedua orang tua, baik ayah maupun ibu, tentu saja mencintai buah hati mereka. Kecintaan orang tua terhadap anaknya merupakan sebuah perkara yang alamiah (naluri) yang Allah Ta’ala tanamkan di hati mereka.

Cinta merupakan semata-mata anugerah dari Allah Ta’ala. Terkait kecintaan orang tua terhadap anaknya, terkadang orang tua lebih mencintai salah satu anaknya dibandingkan anak-anak yang lainnya. Pada dasarnya, kecintaan semacam ini tidaklah mengapa, sebab cinta merupakan suatu yang alamiah, natural, semata-mata anugerah dari Allah Ta’ala. Namun, kecintaan tersebut tidak boleh menyebabkan kezaliman pada anak yang lainnya, atau mengurangi hak-hak mereka.

Sebuah hal yang wajar bila kita lebih mencintai orang yang shalih dibandingkan yang kurang shalih. Anak yang taat, rajin shalat, puasa sunnah dan berbakti, tentu lebih dicintai orang tuanya. Kedua orang tua tetap tidak boleh berlebihan dalam mengekspresikan atau menunjukkan kecintaannya kepada sang anak yang taat ini. Namun, terkadang diperbolehkan menjadikan ketaatan atau kelebihan salah satu anak untuk memotivasi anak yang lainnya. Misalnya, dengan mengatakan, “Si Fulan ini lebih baik dari kalian karena dia taat, rajin shalat dan puasa.” Atau kata-kata lain yang semisal dengan itu. Sekali lagi, bukan dalam rangka membanding-bandingkan anak, namun lebih untuk memotivasi mereka.

Lihatlah, Nabi Ya’qub ‘alaihis salam demikian cintanya kepada Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِينَ ؛ إِذْ قَالُوْا لَيُوْسُفُ وَأَخُوْهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِيْنَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِيْ ضَلَالٍ مُبِيْنٍ

“Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya. (Yaitu) ketika mereka berkata,  ‘Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin –Tafsir Jalalain) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (banyak, –pen.). Sesungguhnya ayah kita di dalam kekeliruan yang nyata.” (QS. Yusuf [12] : 7-8)

Sesungguhnya, cinta Nabi Ya’qub kepada Yusuf ‘alaihimas salam merupakan kecintaan yang murni, tidak ada unsur kezaliman kepada anak yang lainnya. Namun, kecintaan yang demikian itu saja dapat melahirkan perasaan jengkel di dada anak-anaknya yang lain.

Demikian pula, perhatian orang tua yang berlebih terhadap salah satu anaknya akan membuat perasaan anak yang lain sedih, galau, dendam, bahkan melahirkan permusuhan yang berujung pada keinginan untuk mencelakai anak yang “terlihat lebih disayangi” orang tua mereka.

Lihatlah perbuatan saudara-saudaranya Nabi Yusuf ‘alaihis salam kepada beliau. Allah Ta’ala berfirman,

اُقْتُلُوْا يُوْسُفَ أَوِ اطْرَحُوْهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِيْنَ

“Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tidak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.” (QS. Yusuf [12] : 9)

Lihatlah, ucapan mereka terhadap ayahnya pada ayat sebelumnya, bagaimana mereka menyifati ayahnya dengan kesesatan.

Kita dapat melihat mengapa mereka berniat melakukan rencana pembunuhan terhadap Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Yang mereka inginkan semata-mata agar ayah mereka hanya mencintai mereka semata dan berpaling dari Nabi Yusuf ‘alaihis salam.

Lantas bagaimana lagi, bila kecintaan kepada salah seorang anak yang terekspresikan jelas dan disertai dengan kezaliman dan pengurangan hak-hak anak yang lainnya? Tentulah ini akan lebih menimbulkan kesedihan, kebencian, dan permusuhan di antara anak-anak kita. Bahkan, akan menimbulkan kebencian dan permusuhan antara anak dengan orang tuanya.

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim (muslimah.or.id / keluarga dakwah.com)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)