Langsung ke konten utama

Global dan Terperinci

Global dan Terperinci
Keluarga Dakwah - Rata-rata laki-laki melihat suatu masalah secara global, sedangkan perempuan memperhatikan secara terperinci. Inilah yang membedakan laki-laki dan perempuan. Dengan mengenal salah satu rahasia kehidupan ini serta menyikapinya secara positif akan menyokong langgengnya kehidupan rumah tangga, serta meminimalisir pemicu ketegangan dan salah paham.
Suami harus berkenan diajak bicara tentang pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan istri seperti masak, membeli keperluan, dan semisalnya. Begitu pula dengan istri, harus menghargai sifat suami tatkala tidak perhatian terhadap masalah-masalah secara rinci.

Jika istri meminta pendapat suami tentang menu makan siang, ia hanya akan menanggapi, “Bagus, enak”, tanpa membahasnya secara rinci. Namun jawaban ini tidak akan memuaskan istri, karena ia ingin bagasa yang lebih rinci. Supaya perasaan istri lebih tenang dan merasakan perannya, maka hendaknya suami memuji meja makan berikut menunya, rasa dan aroma hidangannya, kerapiannya, dan seterusnya. Jika ia tidak melakukan itu, istri akan kesal dan cemas. 

Terkadang suami merasa tidak cocok saat istri membahas rinci masalah-masalah seperti pakaian, menu, hubungan sosial dan seterusnya. Kadang kala ia memutus bicara istri atau sibuk dengan yang lain. Hal ini sering membuat istri ngambek, bahkan berakibat tidak saling memahami antar keduanya.

Menghadapi itu semua, hendaknya istri memaklumi tabiat ini, dan jangan banyak ngambek saat suami kurang aktif membahas dengannya. Berdasarkan realita, kecenderuangan untuk terperinci dan global bukanlah aib bagi salah satu dari keduanya. Ini hanya sebatas tabiat masing-masing laki-laki dan perempuan secara umum. 

(Dirangkum dari 99 Tips Rumah Tangga Bahagia, Dr. Musyabbab bin Fahd Al-Ashimi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)