Langsung ke konten utama

Tips Keluarga Bahagia : Sebaik-baik Perkara adalah Pertengahan

 Sebaik-baik Perkara  adalah Pertengahan
Keluarga Dakwah - Cemburu adalah watak bawaan dalam diri manusia. Rasa cemburu kepada istrinya menunjukkan kejantannya, sedang cemburu istri kepada suaminya adalah sifat yang wajar bagi perempuan. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Namun, cemburu dapat dinilai negatif dan mengganggu jika berbuah curiga atau menyakiti pasangannya. 

Hendaknya suami istri memperhatikan masalah ini. Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan hanya karena cemburu. Keduanya juga wajib menghindari apapun yang dapat mengundang rasa cemburu, apalagi sengaja untuk itu. Di waktu yang sama rasa cemburu juga wajib dijaga secara obyektif, terutama kecemburuan laki-laki terhadap istri, kehormatan, dan agamanya. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

“Cemburu ada yang Allah cintai, ada pula yang Allah benci. Adapun yang Allah cintai adalah cemburu karena cemas. Adapun yang Allah cintai adalah cemburu karena cemas. Adapun yang Dia benci adalah cemburu tanpa ada rasa cemas.”  (HR Ibnu Majah)

Cemburu karena cemas adalah tatkala seorang melihat salah satu mahramnya terjatuh dalam keharaman, atau melihatnya di lokasi rawan fitnah. Ini termasuk cemburu terpuji yang suami istri dituntut untuk itu. Adapun cemburu tanpa ada kecemasan yaitu suami cemburu terhadap sesuatu yang tidak layak, seperti cemburu kepada putrinya saat bersama istrinya, atau saat melihat ibu mertua bersama istrinya, dan seterusnya. Termasuk cemburu yang tercela adalah istri merasa cemburu saat suami duduk bersama ibu mertua dan saudarinya-saudarinya, atau saat memberi perhatian kepada mereka.

(Dirangkum dari 99 Tips Rumah Tangga Bahagia, Dr. Musyabbab bin Fahd Al-Ashimi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)