Langsung ke konten utama

Diam itu bijak

Keluarga Dakwah - Diam setelah terjadi masalah rumah tangga, mencari pandangan, serta tidak menceritakan kepada orang lain termasuk adab yang perlu dijaga. Dan ini termasuk ajaran islam yang paling penting.

Dilarang memperburuk citra pihak lain apapun yang terjadi, bahkan apabila terjadi perceraian sekalipun. Yang demikian sebagai ketaatan kepada Alla Ta’ala, mengharap pahala, menjaga hubungan, dan menghargai orang-orang terdekat, terutama anak-anak. Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda :

“Tahukah kalian apa itu ghibah? “Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Kamu menyebut apa yang dibenci saudaramu.” Ditanyakan, “Bagaimana jika itu ada dalam dirinya?“ Beliau menjawab, “ Jika ada dalam diri saudaramu maka kamu telah mengghibahnya, sedangkan jika tidak ada maka kamu telah menfitnahnya.” (Shahih Muslim)

Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda :

“Apabila seseorang mencelamu lantaran aibmu yang ia tahu, maka jangan cela ia dengan aib yang engkau ketahui. Biarkanlah ia, dosanya atasnya namun pahalanya untukmu.” (Shahih Al-Adab Al-Mufrad)

Sebab terkadang banyak suami atau istri menjelekkan citra pasangannya untuk membela sikapnya, ingin balas dendam, untuk mengambil hati anak-anak, ataupun sebab lainnya. Ini adalah sikap yang salah. Sebab, dampak negatifnya akan kembali kepada si pelakunya, kemudian kepada orang-orang sekitarnya. Hal itu akan membuat semua terus-menerus tegang dan gundah lantaran keluhan dan kritik yang biasa mereka dengar. Ada kalanya mencoreng wajah keluarga di benak anak-anak, atau bahkan membuat mereka durhaka kepada kedua orang tua atau salah satu yang zalim. Realita membuktikan hal itu.

Dr. Hani Al-Ghamidi berkata, “Sebagian anak menderita gangguan kejiwaan yang rumit karena mereka dipermainkan. Ini peringatan bagi pihak yang memanfaatkan keluguan anak sebagai senjata untuk menyerang pihak lain. Anak belum bisa menimbang baik secara emosi maupun akal. Kami menganjurkan bagi orang tua yang telah cerai, jangan berfikir memanfaatkan keluguan anak untuk menekan pihak lain.”

(Dirangkum dari 99 Tips Rumah Tangga Bahagia, Dr. Musyabbab bin Fahd Al-Ashimi)

Diam setelah terjadi masalah rumah tangga, mencari pandangan, serta tidak menceritakan kepada orang lain termasuk adab yang perlu dijaga. Dan ini termasuk ajaran islam yang paling penting.

Dilarang memperburuk citra pihak lain apapun yang terjadi, bahkan apabila terjadi perceraian sekalipun. Yang demikian sebagai ketaatan kepada Alla Ta’ala, mengharap pahala, menjaga hubungan, dan menghargai orang-orang terdekat, terutama anak-anak. Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda :

“Tahukah kalian apa itu ghibah? “Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Kamu menyebut apa yang dibenci saudaramu.” Ditanyakan, “Bagaimana jika itu ada dalam dirinya?“ Beliau menjawab, “ Jika ada dalam diri saudaramu maka kamu telah mengghibahnya, sedangkan jika tidak ada maka kamu telah menfitnahnya.” (Shahih Muslim)

Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda :

“Apabila seseorang mencelamu lantaran aibmu yang ia tahu, maka jangan cela ia dengan aib yang engkau ketahui. Biarkanlah ia, dosanya atasnya namun pahalanya untukmu.” (Shahih Al-Adab Al-Mufrad)

Sebab terkadang banyak suami atau istri menjelekkan citra pasangannya untuk membela sikapnya, ingin balas dendam, untuk mengambil hati anak-anak, ataupun sebab lainnya. Ini adalah sikap yang salah. Sebab, dampak negatifnya akan kembali kepada si pelakunya, kemudian kepada orang-orang sekitarnya. Hal itu akan membuat semua terus-menerus tegang dan gundah lantaran keluhan dan kritik yang biasa mereka dengar. Ada kalanya mencoreng wajah keluarga di benak anak-anak, atau bahkan membuat mereka durhaka kepada kedua orang tua atau salah satu yang zalim. Realita membuktikan hal itu.

Dr. Hani Al-Ghamidi berkata, “Sebagian anak menderita gangguan kejiwaan yang rumit karena mereka dipermainkan. Ini peringatan bagi pihak yang memanfaatkan keluguan anak sebagai senjata untuk menyerang pihak lain. Anak belum bisa menimbang baik secara emosi maupun akal. Kami menganjurkan bagi orang tua yang telah cerai, jangan berfikir memanfaatkan keluguan anak untuk menekan pihak lain.”

(Dirangkum dari 99 Tips Rumah Tangga Bahagia, Dr. Musyabbab bin Fahd Al-Ashimi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)