Langsung ke konten utama

Beberapa Hal yang Disunnahkan dalam Pernikahan

Keluarga Dakwah - Ada beberapa hal yang disunnahkan dalam menyelenggarakan akad nikah, di antaranya:

1. Khutbah Sebelum Akad

Disunnahkan bagi penyelenggara atau orang yang ditunjuk untuk menyampaikan khutbah sebelum akad nikah. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah saw,

“Setiap orang yang mempunyai hajat, lalu ia tidak memulainya dengan alhamdulillah (segala puji bagi Allah), maka yang demikian itu tidak berkah.“

Dan disunnahkan khutbah tersebut disampaikan oleh wali atau dari keluarga mempelai laki-laki atau yang lainnya.

2. Pengumuman Nikah dengan Rebana, Pengeras Suara, atau yang Lainnya

Dari Aisyah ra, ia pernah mengantarkan pengantin seorang wanita ke rumah seorang laki-laki dari kaum Anshar, maka Rasulullah saw bersabda,

“Wahai Aisyah, apakah tidak ada permainan pada kalian, sesungguhnya kaum Anshar sangat menyenangi permainan.“ (HR. Bukhari)

Banyak hadits yang menunjukkan perintah mengumumkan pernikahan. Di antaranya dengan cara menabuh rebana. Hadits-hadits ini bersifat luas yang di antaranya menunjukkan disyariatkannya penabuhan rebana, karena penabuhan rebana itu lebih tepat untuk mengumumkan pernikahan, bahkan penabuhan rebana itu disunnahkan dengan syarat tidak disertai dengan hal-hal yang diharamkan, misalnya dibarengi dengan nyanyian oleh penyanyi wanita yang suaranya mengundang syahwat.

Adapun penabuhan rebana oleh kaum wanita untuk menyambut kedatangan orang yang ditunggu, ada beberapa hadits yang berkenaan dengan hal ini, di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan dalam kitab Shahihain, dari Aisyah ra, ia bercerita, Rasulullah saw pernah masuk ke tempatku, sedang bersamaku terdapat dua orang budak wanita yang sedang menyanyikan lagu Bu’ats (nama suatu tempat di Madinah), lalu beliau berbaring di atas permadani dan beliau memalingkan wajahnya. Kemudian Abu Bakar masuk seraya membentakku dan berkata, “Seruling syaitan ada di rumah Rasulullah saw.” Maka Rasulullah datang kepadanya dan bersabda, “Biarkan mereka berdua.” Peristiwa itu terjadi pada hari raya. Lebih lanjut beliau bersabda kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar, setiap kaum itu mempunyai hari raya dan inilah hari raya kita.”

3. Doa untuk Kedua Mempelai

Hal ketiga yang juga disunnahkan bagi kaum muslimin berkaitan dengan pernikahan adalah mendoakan pengantin. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, al-Hakim, dan yang disetujui oleh adz-Dzahabi,

بارك الله لك و بارك عليك و جمع بينكما في خير و عافية

“Semoga Allah memberkahimu dan memberikan keberkahan kepadamu serta menyatukan kalian berdua dalam kebaikan dan kesehatan.“

4. Shalat Dua Rakaat bagi Mempelai Laki-laki Setelah Mempelai Wanita Masuk Menemuinya

Perkara keempat yang sunnah dikerjakan seorang laki-laki adalah mengerjakan shalat dua rakaat setelah istrinya masuk menemuinya. Kemudian hendaklah ia mengucapkan doa seperti yang diajarkan oleh para sahabat Rasulullah, di antaranya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanadnya Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya dari Nabi saw bahwa beliau pernah bersabda,

“Jika salah seorang di antara kalian menikahi seorang perempuan atau membeli pelayan, maka hendaklah ia membaca doa, “Allahumma inni as’aluka khoirohaa wa khoiro ma jabaltahaa alaihi wa a’uudzubika min syarrihaa wa min syarri maa jabaltahaa alaihi.” (‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang telah Engkau adakan padanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang Engkau adakan padanya.)”

5. Walimah

Rasulullah saw bersabda kepada Abdurrahman bin Auf

“Adakanlah walimah meski hanya dengan menyembelih seekor kambing.” (Muttafaqun Alaih)

Al-Azhari mengemukakan, kata al-walimah itu diambil dari kata aulama yang merupakan jamak, karena adanya dua orang yang sedang bertemu.”

Sumber: Fikih Keluarga, terj. Abdul Ghofar EM. (Pustaka Al-Kautsar), hlm. 117 – 139.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)