Langsung ke konten utama

Pembiaran yang Cerdas dalam Keluarga

Pembiaran yang Cerdas dalam Keluarga
Keluarga Dakwah - Terkadang suami istri mendapati kekeliruan dan kekhilafan dari pasangannya, ada yang sengaja maupun tidak sengaja. Supaya rumah tangga berjalan lebih baik maka perlu berpura-pura lupa akan itu semua. Ini termasuk hikmah dan ketajaman akal.

Tidak dibenarkan mendalami dan merinci setiap kesalahan. Bahkan sebaiknya, kadang ia melihat kesalahan pasanannya lalu memalingkan pandangan darinya, atau kadang mendengar ucapan tidak enak namun tidak menghiraukannya, dan seterusnya.

Ajakan untuk berpura-pura lupa bukan berarti diam dari kesalahan atau tanpa diluruskan jika itu berulang-ulang. Harus meluruskan sikap-sikap yang salah saat itu terjadi, atau setelah terjadi beberapa lama, baik terhadap pasangan maupun anak-anak, dengan cara yang mendidik.

Pura-pura lupa hanya terpuji saat interaksi dengan orang lain, khususnya dengan pasangan dan anak-anak, serta umumnya pada orang lain. Adapun pura-pura lupa dalam masalah agama dan kehormatan, maka tidak dibenarkan, terlebih jika meninggalkan kewajiban dan terjerumus dalam keharaman. Imam Syafi’i rohimahullaah berkata, ”Orang cerdas yang berakal adalah cerdas dan pandai berpura-pura.”

Umat bin Utsman Al-Makki rohimahullaah berkata, ”Muru’ah itu dengan berpura-pura lupa dari ketergelinciran saudara-saudaranya.” (Shifatush Shafwah,II)

Utsman bin Zaidah rohimahullaah berkata, ”Kesejahteraan itu ada sepuluh bagian, sembilan darinya ada dalam sikap pura-pura lupa. Maka aku sampaikan itu pada Ahmad bin Hambal, lantas beliau berkata,”Kesekahteraan itu ada sepuluh bagian, seluruhnya ada dalam sikap pura-pura lupa.” (Syu’abul Iman, Baihaqi, VI/330)

(Dirangkum dari 99 Tips Rumah Tangga Bahagia, Dr. Musyabbab bin Fahd Al-Ashimi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)