Langsung ke konten utama

Setelah Perceraian Haruskah Istri Menyambung Kerabat Suaminya?

Setelah Perceraian Haruskah Istri Menyambung Kerabat Suaminya?
Keluarga Dakwah - Hubungan silaturrohim khusus kerabat dari sisi bapak (mertua) dan sisi ibu tanpa besan. Syekh Ibnu Baz rahimahullah ditanya, ‘Saya mohon perincian silaturrohim, apakah termasuk keluarga istri dan suami satu dengan lainnya atau tidak? Dan siapakah kerabat (arham)itu?

Beliau menjawab, ‘Arham adalah kerabat dari sisi ibu dan dari sisi bapak. Maka para bapak, para ibu, para kakek dan para nenek adalah arham (kerabat). Anak cucu mereka dari kalangan laki-laki dan perempuan, begitu juga anak-anak perempuan semuanya adalah arham (kerabat). Begitu juga saudara laki-laki dan saudara perempuan dengan anak-anaknya adalah arham (kerabat). Begitu juga paman dan bibi dari bapak dan ibu serta anak-anaknya adalah arham (kerabat). Sementara kerabat istri mereka adalah besan bukan termasuk arham (kerabat). Begitu juga kerabat suami bagi istri adalah besan bukan termasuk arham (kerabat).’

Syekh Ibn Utsaimin rahimahullah berkata: ‘Kebanyakan dari kalangan awam memahami kata nasab (keluarga) atau kata Arham (kerabat) kecuali kerabat suami dan istri. Sampai seseorang mengatakan, ‘mereka adalah keluargaku dan kerabatku karena dia menikah dengannya. Ini adalah suatu kesalahan baik dari sisi bahasa maupun syara’ (agama). Karena nasab (keturunan) mereka adalah kerabat dari bapak dan ibu. Arham juga mereka adalah dari ayah ibu.

Sementara kerabat dari suami istri, mereka dinamakan besan bukan nasab. Allah Ta’al berfirman:

( وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا ) الفرقان/ 54.

“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.” SQ. Al-Furqan: 54. Allah menjadikan hubungan diantara dua manusia adalah dengan dua hal, nasab 9keluarga) dan besan.’ Selesai ‘Fatawa Nurun ‘Alad Darbi, karangan Ibnu Utsaimin, 6/11.

Akan tetapi hal itu tidak menghalangi berinteraksi dan berhubungan diantara manusia. Menyambung, berkasih sayang dan berkunjung kepadanya meskipun diantara mereka tidak ada hubungan kerabat dan keturunan.

Tidak mengapat melanjutkan hubungan yang baik dengan besan meskipun setelah bercerai. Pada hakekatnya ini termasuk akhlak yang baik, asli kedermawanan karena seorang muslim itu saudara dengan muslim lain. Akan tetapi perlu diperhatikan akan urgensinya berkometmen dengan hijab syar’i di depan anak-anak muda laki-laki.

Telah ada di kitab ‘Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 7/17: “Seorang wanita harus berhijab dari anak muda yang telah dapat membedakan aurat dengan lainnya. Ini secara global. Kalau masih anak-anak yang belum dapat membedakan antara aurat dengan lainnya, maka tidak mengapa memperlihatkan hiasan kepadanya berdasarkan firman Allah ‘dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.’ SQ. An-Nur: 31.’ Selesai.

Yang dijadikan pedoman terhadap anak kecul yang tidak berhijab darinya. Bahwa dia tidak mengetahui sesuatu yang terkait dengan wanita dan tidak ada perhatiannya. Ini berbeda tergantung perbedaan nafsu dan pertumbuhannya.’ Selesai ‘Fatawa Nurun ‘Ala Ad-Darbi, karangan Ibnu Utsaimin, 11/500.

Wallahu’alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)