Langsung ke konten utama

Keluarga Sampai di Surga


Keluarga Dakwah - Semua tentu berharap hubungan ayah anak tak berbatas di kehidupan dunia. Namun hubungan itu kekal hingga di akhirat.

“Orang-orang mukmin masuk ke dalam surga dan merasakan kenikmatan. Penghuni surga menikmati segala kelezatan yang diberikan oleh Tuhan mereka. Tuhan mereka menyelamatkan penghuni surga dari adzab nereka Jahim. Para malaikat berkata kepada penghuni surga, “Makanlah dan minumlah dengan senang hati. Ini semua merupakan balasan amal shalih yang kalian lakukan di dunia dahulu. Para penghuni surga duduk bersandar pada dipan-depan yang tertata rapi. Mereka ditemani bidadari yang berkulit putih bersih dan bermata indah. Orang-orang mukmin berada di dalam surga disusul oleh anak keturunan mereka yang beriman. Kami kumpulkan orang-orang mukmin bersama dengan anak keturunan mereka. Kami tidak mengurangi sedikitpun pahal atas amal mereka. Setiap orang mendapatkan pahala sesuai aaml shalih yang dilakukan didunia. Kami karuniakan kepada para penghuni surga buah-buahan, sayur mayur dan daging yang mereka inginkan. Di dalam surga, mereka saling mengulurkan gelas berisi minuman. Di dalam surga tidak ada ucapan sia-sia dan tidak pula ada perbuatan dosa. Para penghuni surga di kelilingi pelayan-pelayan muda. Mereka itu putih bersih laksana mutiara dan berjajar rapi. Para penghuni surga duduk saling berhadapan untuk bercengkrama membicarakan keadaan mereka di dunia dahulu. Sungguh, Kami dahulu berada ditengah keluarga kami yang selalu takut akan adzab Allah. Lalu Allah memberikan karunia kepada kami. Allah menjauhkan kami dari adzab yang membinasakan di akhirat.” (QS. At-Thuur: 17-28)

Demi agar kelak anak-anaknya menjadi keluarga di surga, Setiap pagi yang masih gelap, Rasulullah selalu berjalan di depan rumah Ali bin Abi Thalib. Ia ketuk pintu rumahnya setiap kali hendak mendirikan shalat subuh. “Shalat, shalat, wahai keluargaku, sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa-dosa kalian dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.”   

Ali dengan kualitas keimanannya yang luar biasa. Seorang pemuda generasi awal yang mengimani kenabian Muhammad saw. Seorang yang rela tidur diranjang Rasulullah saat peristiwa Hijrah sementara orang-orang kafir mengelilingi rumah dengan menghunuskan pedang. Dan, ia adalah satu dari sepuluh orang yang telah dijanjikan surga (al-Asrah al mubassaruna bil jannah). Rasulullah tetap mengetuk pintu rumahnya, tetap mengajaknya untuk shalat berjamaah.

Demikian juga yang dilakukan oleh shahabat Abu Bakar as-sidik. ia lewati rumah putranya, Abdullah, ketika hendak pergi kemasjid. Di dengarnya sang putra masih bercengkrama dengan sang istri yang baru dinikahi. Tak tega ia mengganggu pasangan baru itu. Dengan permakluman, ia tinggalkan sang putra dengan harapan sang putra akan segera menyusulnya ke masjid. Ia tunggu putranya di masjid, sampai ketika iqamah telah dikumandangkan, tetap sosok yang ditunggunya tak kunjung tampak. Berulang kejadian serupa, hingga ayah yang shalih ini terpaksa memerintahkan sang putra untuk menceraikan istrinya. Demikianlah bila sebuah keluarga mendamba surga. (Arrisalah / Keluarga Dakwah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)