Langsung ke konten utama

Qiyamullail, Mahar Bidadari


Keluarga Dakwah - Qiyamullail bukanlah satu-satunya mahar bidadari. Jalan kebaikan menuju jannah beragam bentuknya, dan itu merupakan karunia Allah Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya. Terlebih bagi para mujahid fi sabilillah, di mana mereka mengorbankan harta dan jiwa mereka untuk Allah Ta’ala dengan jannah sebagai imbalannya. Terlampau banyak kisah romantis yang menyebutkan pertemuan calon syahid dengan bidadari. Yang paling fenomenal adalah bidadari yang bernama ‘ainul mardhiyah.

Pun, dengan qiyamullail. Ia merupakan mahar bagi peminang bidadari. Inilah senandung para bidadari yang menyindir orang-orang yang bersemangat banci namun merindukan bersanding dengan mereka yang bermata jeli;

Apakah kamu meminta bidadari sepertiku

Sedangkan kedua matamu tertidur

Tidurnya kekasih bagiku hukumnya haram

Karena kami diciptakan bagi setiap orang

Yang memperbanyak shalat dan shiyam

Azhar bin Mughits Rahimahullah berkata, “Suatu malam aku bermimpi bertemu dengan seorang bidadari yang sangat cantik, lalu aku katakan kepadanya, milik siapa kamu ?” Dia menjawab, “Milik orang yang bangun malam pada musim dingin.”

Sebagian salaf ada yang enggan menghidupkan malam, lalu datanglah seseorang di dalam mimpinya sembari berkata kepadanya, “Bukankah kamu ingin segera meminang, lalu mengapa kamu bermalas-malasan ? Dia menjawab, “Bagaimana caranya ? “ Orang itu menjawab, “Bangunlah kamu di waktu malam, atau tidakkah kamu tahu bahwa orang yang mengerjakan shalat malam, malaikat berkata, “Peminang sudah bangun menemui pinangannya.”

Azhar bin Tsabit At-Taghlibi juga berkata, “Ayahku termasuk orang yang senang bangun malam. Pada suatu hari ayahku bangun malam, aku bermimpi melihat seorang yang wanita cantik yang menyerupai wanita dunia. Aku katakan padanya, “Siapa kamu ?” Dia menjawab, “Bidadari.” Aku bertanya, “Maukah kamu nikah dengan aku ?” Dia menjawab, “Pinanglah aku wahai tuanku, dan berilah maharku ?” Aku bertanya kepadanya, “Apa maharmu ?” Dia menjawab, “Tahajud yang panjang.”

Namun, dari kisah ahlul lail, orang yang sering qiyamullail yang paling indah adalah apa yang pernah dialami oleh tabi’in agung, Abu Sulaiman Ad-Darani. Kisahnya singkat namun kata-kata bidadari yang menegurnya terasakan keindahannya bagi orang yang membaca kisahnya. (oase Imani)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)