Langsung ke konten utama

Tak Ada Waktu Untuk Keluarga


Keluarga Dakwah - Assalmuaalaikum, saya seorang ayah muda dengan satu orang istri dan dua orang anak yang masih kecil. Setiap hari saya bekerja dari pagi hingga sore kemudian disambung dengan pekerjaan sambilan yang tak memiliki waktu tetap. Saya selalu pulang malam dan tak jarang pulang dengan membawa setumpuk pekerjaan. Saya merasa tidak punya waktu untuk keluarga. Mohon nasihatnya.

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Salah satu masalah besar yang dihadapi banyak orang tua saat ini adalah ketiadaaan waktu untuk mendidik anak. Sebagian mereka mungkin di rumah namun setumpuk pekerjaan memalingkan mereka dari keluarga. Hal ini merupakan celah berbahaya bagi keluarga. Hal ini seringkali berawal dari ketidakpahaman pasangan suami istri atau satu pihak terhadap metode pendidikan anak.

Dalam banyak kesempatan suami kesulitan mencari waktu untuk berkumpul dengan semua anggota keluarga untuk mengarahkan, mengajak berbicara, dan mendengarkan pendapat mereka. Bahkan istri sendiri sering tidak mendapatkan waktu untuk duduk bersama membicarakan program yang akan dijalankan oleh seluruh anggota keluarga. Suami berangkat pada pagi hari ketika seluruh keluarga sedang sibuk mempersiapkan aktivitas masing-masing dan pulang saat anggota keluarganya telah tidur.

Apabila msyarakat umum banyak mengeluhkan hal ini seorang muslim semestinya lebih bermasalah dengan hal ini. Hal ini akan mengakibatakan timbulnya jurang  pemisah antara kepala keluarga dan anggota keluarga. Ketika jurang itu telah semakin dalam barulah biasanya seseorang akan menyesal.

Dalam Islam ayah memiliki kedudukan yang mulia karena dialah pemimpin keluarga. Ia bertanggung jawab atas seluruh anggota keluarga dan keistiqamahan mereka di atas agama Allah.

Untuk itu dituntut perhatian seorang ayah terhadap syariat Islam dan pilar-pilar utama yang wajib dipegangi oleh seluruh anggota keluarga.

Islam mewajibkan ayah mengajarakan hukum halal dan haram kepada anak dengan penjelasan yang mudah dicerna dan dipahami.  Pemahaman tentang hal pokok dalam agama pada masa pertumbuhan diakui sagat penting dalam pendidikan anak. Sebab setiap informasi yang diterima anak akan direkam dan berbekas hingga mereka dewasa. Selain itu seorang ayah juga dituntut untuk membekali anak dengan kemampuan berpikir yang diperlukan sehingga anak bisa memilah mana yang benar dan mana yang salah.

Oleh karena itu, luangkanlah waktu untuk mendidik keluarga. Kewajiban serorang suami untuk menafkahi anak dan keluarga bukanlah alasan seorang ayah berlepas diri dari mendidik anak-anaknya. Pun keberlimpahan harta yang diberikan kepada anak-anak tak menjaminnya sama sekali menjadi anak shalih yang bisa diharapkan doanya kelak ketika kita telah tiada. Mari luangkan waktu untuk keluarga.

.
.
┏ ===  ❀❀✿❀❀  === -┓
               Link grup 


  ┗ ===  ❀❀✿❀❀  === -┛

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)